Saturday, October 21, 2017

Masjid Agung Al-Mukarram Amanah Kuala Kapuas

Masjid Agung Al-Mukarram Amanah Kabupaten Kapuas (foto dari IG @seputarmasjid)
Masjid Agung Al Mukarram Amanah merupakan masjid terbesar segaligus termegah di Kota Kapuas ibukota Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Terletak di jantung kota, tepatnya di Jalan Tambun Bungai, masjid ini dapat menampung hingga kurang lebih lima ribuan jemaah. Bangunan ini berarsitektur perpaduan gaya modern dan klasik, pada beberapa bagian bangunan dilengkapi  dengan interior dan aksesoris indah.

Masjid Agung Al-Mukarram Amanah sudah berdiri sejak tahun 1990 diatas lahan seluas 25.554 meter persegi berstatus SHM dengan luas bangunan awal 300 meter persegi. Namun bangunan masjid megah yang kini berdiri merupakan hasil pembangunan tahun 2012.

Masjid Agung Al-Mukarram Amanah
Jl. Tambun Bungai RT. 36 Kelurahan Selat Tengah
Kecamatan Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas
Kalimantan Tengah 73516



Lokasi masjid agung yang lama lokasinya berada di pelataran luas di depan bangunan Masjid agung saat ini, bangunan tersebut digunakan masyarakat muslim Kapuas sejak tahun 1990 hingga tahun 2012. Hingga awal tahun 2012 komplek masjid agung ini tampak sepasang masjid kembar karena bangunan masjid lama masih berdiri dan bangunan baru yang lebih besar sudah hampir selesai.

Menjelang bulan suci Romadhon 1433H/2012 Proses pembangunan masjid Al-Mukarram Amanah yang baru sudah mendekati penyelesaian dan sudah layak untuk digunakan, bangunan masjid yang lama di robohkan, dan di tahun 1433H/2012 untuk pertama kali ummat Islam Kapuas mulai menikmati sholat Tarawih hingga sholat Idul Fitri pertama di Masjid Agung yang baru tersebut. Pada hari Jum'at, 27 Juli 2012 masjid ini resmi digunakan untuk shalat Jum'at pertama di bulan Ramadhan 1433 H / 2012 M. 

Aktivitas Masjid Agung Al-Mukarram Amanah

Sebagai masjid agung kabupaten, Masjid Agung Al-Mukarram Amanah Kuala Kapuas ini menjadi pusat aktivitas ke-Islaman di kabupaten tersebut termasuk menjadi pusat penyelenggaraan Sholat Idul Fitri dan Idul Adha yang dihadiri oleh para pejabat tingkat kabupaten hingga provinsi bersama dengan ribuan masyarakat muslim setempat.

Interior Masjid Agung Al-Mukarram Amanah Kapuas

Seperti yang dilaksanakan pada sholat Idul Fitri 1438H yang lalu yang jatuh pada tanggal 25 Juni 2017 dihadiri oleh Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, Habib H Said Ismail Balghaits yang juga bertindak sebagai khatib, serta Kabag Kesra Pemda Kabupaten Kapuas, H Junaidi yang turut menyampaikan sambutan mewakili Bupati Kapuas.

Salah satu keunggulan masjid ini pada saat adzan waktu sholat berkumandang, suara adzannya disiarkan secara langsung via radio masjid Agung Al Mukarram Amanah Kapuas FM dengan frekuensi sendiri.

Masjid Berprestasi

Di tahun 2016 yang lalu Masjid Agung Al-Mukarram Amanah kabupaten Kapuas meraih prestasi predikat terbaik pertama dalam ajang lomba Masjid Percontohan Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah. Dan meraih juara kedua masjid percontohan untuk tingkat nasional.

Masjid Agung Al-Mukarram Amanah saat sedang dibangun, di latar depan adalah bangunan masjid Agung yang lama, kini sudah dirobohkan dan menjadi halaman depan dan kolam.

Hal tersebut tak lepas dari peran pemerintah Kabupaten Kapuas yang memberikan dukungan untuk pembangunan bidang keagamaan di Kabupaten Kapuas, kabupaten yang mempunyai motto sebagai kota AIR (Aman Indah Ramah) yang memiliki semboyan Tingang Menteng Pananjung Tarung (berjuang untuk mengangkat harkat dan martabat).

Selain bangunannya yang megah dan berprestasi tingkat nasional, masjid ini juga tak pernah sepi Jemaah di setiap waktu sholat tiba, apalagi selama bulan suci romadhon yang Jemaah tarawihnya tetap padat hingga ke penghujung bulan suci. Sholat Tarawih di masjid ini dilaksanakan 11 roka’at.

Seperti masjid masjid lainnya, selama bulan suci Romadhon Masjid Agung Al-Mukarram Amanah ini juga menyelenggarakan acara berbuka puasa bersama, Salat Tarawih, tadarus Alquran, qiyamul lail pada malam ganjil, pesantren Ramadan dan kultum tarawih. Acara ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan puasa.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga

Sunday, October 15, 2017

Masjid Damarjati Tertua di Salatiga

Sebagai masjid tertua di Salatiga, Masjid Damarjati ini tidak tampak lagi ketuaannya dan terlihat seperti masjid masjid baru pada umumnya, namun sejarah perkembangan Islam di Salatiga di mulai dari Masjid ini.

Masjid Damarjati terletak disebuah gang di Jalan Beringin, Krajan, Salatiga, tidak tampak kesan istimewa ketika melihat bangunan masjid Damarjati dari luar yang sudah seperti bangunan baru Namun masjid ini merupakan cikal bakal sejarah penyebaran ajaran agama Islam di kota Salatiga. Masjid Damarjati merupakan masjid pertama dan tertua yang dibangun di Kota Salatiga.

Masjid Damarjati merupakan masjid tertua di Salatiga yang didirikan pada tahun 1826 oleh Ki Ronosetiko Laskar Pangeran Diponegoro yang dibantu oleh Kyai Damarjati.  Dari sisi sejarah, Masjid Damarjati ini memiliki kesamaan dengan Masjid  Al- Atiiq yang terletak di Kauman atau Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2, yakni sama- sama didirikan oleh laskar Pangeran Diponegoro.

Masjid Damarjati
Jl. Damarjati No. 05 RT 02 RW 05 Krajan Kel. Salatiga
Jawa Tengah 50711



Masjid Damarjati telah mengalami renovasi beberapa kali dalam salah satu renovasi dibuat prasasti yang berisikan sekelumit sejarah dibangunnya Masjid Damarjati dan orang-orang yang berjasa membangun kembali Masjid Damarjati yang hampir runtuh. Bangunan suci yang sudah berusia 190 tahun tersebut, hingga sekarang tetap berfungsi kendati lokasinya berhimpitan dengan rumah warga.

Masjid Damarjati yang menempati lahan seluas 369 meter persegi ini, sudah mengalami dua kali renovasi. Sesuai prasasti yang menempel di dinding , pemugaran pertama di tahun 1978 dan renovasi kedua di tahun 2007.

Proses pemugaran secara besar-besaran dilakukan pada tanggal 29 Desember 1978 dengan peletakan batu pertama oleh DAM REM 073 Makutoromo dan Muspida Kodim Salatiga. Berikutnya, di tahun 2007 kembali dipugar.  Selain gentingnya diganti asbes, belakangan kubahnya juga dibuat dua buah. Sampai sekarang, Masjid yang kapasistasnya mencapai 200 orang tersebut tetap difungsikan kendati areal parkirnya sangat sempit.

Kondisi bagian dalam Masjid Damarjati seperti masjid-masjid yang baru saja dibangun namun tampak sederhana. Tidak ada ornamen-ornamen yang menghiasi di sekeliling masjid.  Ruangan dalam masjid cukup sempit dan terdapat dua ruangan yang terpisah.

Dengan dinding masjid yang telah dilapisi porselen dan karpet sebagai alas buat sholat yang biasa kita temukan di masjid-masjid yang lain. Namun dibalik kesan yang biasa tersebut banyak orang tidak mengira bahwa cikal bakal sejarah penyebaran Agama Islam kota Salatiga bermula dari Masjid Damarjati ini.

Masjid Damarjati, Salatiga

Sejarah masjid damarjati

Bila Masjid Al - Atiiq didirikan di tahun 1918 oleh Rono Sentiko, biasa disebut Kyai Rono Sentiko yang juga merupakan laskar Pangeran Diponegoro. Sebaliknya, Masjid Damarjati juga dibangun dirinya bersama Kyai Sirojudin tahun 1826 yang tak lain adalah sahabat Kyai Rono Sentiko. Belakangan Kyai Sirojudin yang diduga usianya lebih tua dibanding karibnya, akhirnya berganti nama menjadi Kyai Damarjati.

Kehadiran Kyai Damarjati dan Kyai Rono Sentiko, sebenarnya ditugaskan ke Salatiga untuk memata- matai pergerakan pasukan Belanda. Maklum, di tahun tersebut, Salatiga memang menjadi basis militer pemerintahan kolonial. Agar aktifitasnya tak dicurigai pihak penjajah, dua sahabat itu berpisah. Kyai Rono Sentiko menempati kampung Bancakan (sekitar 3 kilo meter dari kampung Krajan), sementara Kyai Damarjati tetap berada di kampung Krajan.

Untuk memuluskan perlawanannya dalam melawan pasukan kolonial,duet  Kyai Damarjati dan Kyai Rono Sentiko  mendirikan mushola di tempat Masjid Damarjati berdiri. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, mushola juga dimanfaatkan guna menyusun strategi perang gerilya. Sementara Kyai Rono Sentiko, belakangan membangun Masjid Al- Atiiq usai perang Diponegoro berakhir. Ditengarai, hengkang nya Kyai Rono sentiko dari kampung Krajan inilah yang membuat nama Kyai Damarjati lebih banyak dikenal sebagai pendiri Masjid.

Mushola yang dibangun oleh dua karib laskar Pangeran Diponegoro tersebut, seiring dengan perkembangan agama Islam di Salatiga akhirnya diubah menjadi Masjid. Untuk mengenang jasa  Kyai Damarjati , namanya diabadikan sebagai nama Jalan sekaligus nama Masjid. Saat beliau wafat, belakangan dimakamkan di depan Masjid yang hanya dipisahkan jalan. Ada satu pintu tersendiri bagi peziarah yang ingin berkirim doa sekaligus ziarah ke makam beliau.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga



Saturday, October 14, 2017

Masjid Agung Kota Tegal

Masjid Agung Kota Tegal, Jawa Tengah

Masjid Agung Kota Tegal merupakan salah satu masjid tua bersejarah di Jawa Tengah, masjid ini pertama kali dibangun bersamaan dengan peristiwa perang Diponegoro | Perang Jawa antara tahun 1825-1830, dan dengan sendirinya masjid agung ini menjadi salah satu saksi bisu sejarah perang terbesar dalam sejarah Jawa tersebut.

Pembangunnya adalah K.H. Abdul Aziz yang merupakan penghulu pertama di kota Tegal. Beliau juga mempunyai hubungan kerabat dengan Raden Reksonegoro, Bupati Tegal waktu itu, sehingga pembangunan Masjid Agung Tegal itu berjalan mulus dan lancar tanpa hambatan. Lokasi masjid ini dibangun tidak di sisi barat alun alun kota Tegal dan hanya berjarak sekitar 150 meter ke arah barat laut dari pendopo kota Tegal.

Masjid Agung Kota Tegal
Jl. KH. W. Hasim No.1921, Mangkukusuman
Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah 52131



Hanya saja bangunan masjid agung megah yang kini berdiri bukanlah bangunan asli peninggalan dari K.H. Abdul Aziz, namun bangunan masjid hasil renovasi dan pembangunan kembali yang sudah dilaksanakan berkali kali sepanjang perjalanan sejarahnya.

Sejak dibangun oleh K.H. Abdul Aziz di tahun 1825-1830 Masjid Agung Kota Tegal ini telah mengalami berkali kali renovasi dan terahir kali di renovasi total ke bentuknya saat ini di tahun 2015 yang lalu. Sebelumnya tercatat beberapa kali dilakukan renovasi termasuk penambahan gedung KUA (Kantor Urusan Agama) di tahun 1927 tempat dilangsungkannya pernikahan sebagai pengganti ruang paseban yang sudah tidak refresentatif.

Renovasi berikutnya ditahun 1953-1954, renovasi dan perombakan kala itu dilakukan secara besar-besaran. Serambi depan masjid diperluas ke arah depan sehingga menyatu dengan KUA. Menyusul kemudian di tahun 1970 dilakukan perbaikan tempat wudhu disebelah kanan masjid dan atap masjid diganti dengan atap tumpang. Renovasi berikutnya dilakukan tahun 1985.

Masjid Agung Kota Tegal sebelum renovasi tahun 2015

Renovasi 2015

Renovasi terhir masjid Agung Kota Tegal dilaksanakan tahun 2015 yang lalu dimasa pemerintahan walikota Hj. Siti Masitha Soeparno. Sebagian besar bangunan masjid ini dibongkar dan diganti dengan bangunan baru, empat menara kini berdiri kokoh menjulang mengapit bangunan masjid di empat sudut bangunannya.

Bila menjejak bentuk lama masjid ini hanya bentuk atap masjid lama yang masih dipertahankan di bangunan baru Masjid Agung Tegal ini. Bangunan baru dengan sentuhan berbagai seni bina bangunan masjid dengan tetap mempertahankan gaya atap bangunan masjid khas Indonesia. bagian lain yang dipertahankan pintu dan jendelanya.

Renovasi yang bertajuk Rehabilitasi Masjid Agung Kota Tegal tersebut dikerjakan PT Ritter Dinamika dari Jakarta Barat dengan nilai kontrak Rp 9,5 miliar. Biaya itu sumbernya dari dana hibah Pemerintah Kota Tegal. Dana hibah Rp 10 miliar dari APBD 2014 diserahkan kepada Yayasan Masjid Agung Kota Tegal pada 12 Desember 2014.

Renovasi total Masjid Agung Tegal di tahun 2015 tersebut tak pelak mengungang kritik dari sejarawan Tegal Wijanarto yang mengatakan bahwa “Proses konservasi Masjid Agung semakin kehilangan spirit historisnya” mengingat bahwa rehabilitasi tersebut mengubah drastis penampilan luar salah satu ikon Kota Tegal itu. Masjid yang semula hanya memiliki satu menara itu juga akan dirombak menjadi bangunan baru lengkap dengan empat menara megah di tiap sudutnya.

Masjid Agung Tegal di Malam Hari

Renovasi masjid agung kota Tegal ini juga sempat menuai keluhan dari anggota wakil rakyat yang mengeluhkan bentuk hiasan di area pintu masuk masjid agung ini yang menyerupai lambang swastika Nazi. Ditambah lagi dengan proses penyelesaian renovasinya yang mundur dari jadwal yang semestinya sudah harus rampung pada 5 Desember 2015.

Peresmian masjid Agung Kota Tegal ini dilaksanakan pada malam Jum’at 17 November 2016 dengan menggelar acara Tegal Bersholawat dipimpin oleh Al Habib Syech Abdul Qodir Assegaf. acara tersebut dihadiri oleh ribuan muslim kota Tegal dan sekitarnya. Tegal bersholawat merupakan kegiatan rutin yang digelar Masjid Agung Kota Tegal sekaligus peresmian pembangunan Masjid Agung tersebut.

Aktivitas Masjid Agung Kota Tegal

Lantai bawah masjid digunakan sebagai ruang utama masjid. Sedangkan, lantai atasnya sebagai tempat untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan keislaman, seperti pengajian kaum bapak dan kaum ibu setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu ba’da subuh. Pengajian Al-Qur’an bagi para remaja, biasanya diselenggarakan setiap hari Rabu, Kamis, dan Sabtu malam. Khusus pengajian buat masyarakat umum diselenggarakan setiap hari Senin ba’da subuh.

Tradisi Masa Lalu

Masjid Agung Tegal ini, di masa lalu memiliki satu keunikan tersendiri, sampai sekitar tahun 1980-an, setiap datang waktu berbuka puasa (Ramadhan) pasti dilakukan pembakaran petasan berukuran besar di halaman masjid ini sebagai tanda sudah masuk waktu magrib atau berbuka. Namun kini tradisi pembakaran petasan raksasa yang terkesan mubazir itu sekarang sudah ditiadakan. ***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga



Sunday, October 8, 2017

Masjid Raya Pase Aceh Utara

Masjid Raya Pase, Aceh Utara (foto dari rahmat t geurugok)

Masjid raya Pase adalah Masjid Raya di Kabupaten Aceh Utara provinsi Aceh. Masjid ini dibangun tahun 1972. Sejak pertama didirikan hingga saat ini, Masjid Raya Pase menjadi pusat Jama’ah Al-Jamiatus Samadiyah. Setiap malam Sabtu, masjid ini disesaki ribuan Jama’ah Samadiyah untuk mengumandangkan zikir dan tahlil. Masjid Raya Pase ini disebut sebut sebagai masjid termegah di kawasan Aceh Utara. masjid ini memang menjadi pusat dari Jama’ah Al-Jamiatus Shamadiyah dengan perkembangannya yang pesat sehingga kini telah memiliki 104 cabang di 70 Masjid dan34 Mushalla/Meulasah tersebar dalam Nanggroe Aceh Darussalam.

Mesjid Raya Pase merupakan lambang sejarah megahnya kejayaan Kerajaan Islam Pase, sebagai simbol expansi Islam dan legitimasi yang dimilikinya dalam memperteguh existensi dan memperluas pengabdian ummat. Didirikan dijantung Kota Pantonlabu Tanah Jambo Aye Aceh Utara Nanggroe Aceh Darussalam, sebelumnya telah pernah berdiri sebuah Masjid dipinggir kota tersebut tepatnya ditepi sungai(krueng) Jambo Aye bernama Masjid Al-Jihad.

Masjid Raya Pase
Pantonlabu, Tanah Jambo Aye
Kabupaten Aceh Utara, Aceh 24394


Sejarah Masjid Raya Pase

Masjid Raya Pase didirikan atas prakarsa seorang tokoh masyarakat Aceh Utara, Muhammad Ansari atau akrab disapa Harun Kumis, pada 1972. Sebelum Masjid Raya Pase didirikan, di Kota Pantonlabu telah berdiri sebuah masjid kecil hasil swadaya masyarakat pada tahun 1950-an. Masjid lama dengan kontruksi semi permanen itu diberi nama Al-Jihad, berada di bantaran sungai Krueng Jambo Aye, berjarak sekitar 50 meter dari Polsek Tanah Jambo Aye saat ini.

Era tahun 1960-an, Harun Kumis bersama sejumlah tokoh masyarakat lainnya berangkat ke Jakarta menemui Presiden RI pertama Soekarno. Ia meminta kepada presiden agar di bekas wilayah Kerajaan Pase itu didirikan sebuah masjid yang akan menjadi kebanggaan sekaligus lambang sejarah megahnya kejayaan Kerajaan Islam Pase.

Namun realisasi pembangunan masjid tersebut baru dilakukan pada tahun 1972, di era pimpinan Presiden Soeharto. Dengan Dip : No.6/XVIII/3/1972, Pemerintah Pusat Republik Indonesia mengucurkan anggaran Rp 24 juta. Peletakan batu pertama dilakukan Kementrian Agama yang diwakili Dirjen Agama Islam Departemen Agama RI, didampingi tokoh masyarakat Pantonlabu, Teungku Ibrahim Thaib dan Teungku H. M Amin Umar.

Setelah berdiri, kepengurusan masjid berada di bawah Teungku Ibrahim Thaib dan Azis Sufi sebagai sekretaris. Saat ini kepengurusan masjid berada di bawah H Muhammad Daud dan Teungku Ibrahim Bardan atau Abu Panton, dengan sekretaris Syamsuddin Jalil atau Ayah Panton.

Interior Masjid Raya Pase

Perluasan Masjid Raya Pase

Seiring dengan perkembangan jumlah Jemaah yang semakin meningkat, masjid Raya Pase ini di perluas di tahun 1984 dan selesai di tahun 1986 dengan biaya sebesar Rp. 70 juta Rupiah. Kala itu masjid ini telah diperluas di bagian samping kiri dan kanan masing-masing 15×25 meter, di bagian depan 14×20 meter dan sebuah ruang kantor berukuran 3,2×6,8.

Tepat setahun setelahnya, 1987 dibangun pagar dengan keliling sepanjang 500 meter, sebuah bak wudhu 1,5×10 meter dengan dua jamban serta sebuah balai pengajian berukuran 10×16 meter. Pembangunan itu menelan biaya Rp 65 juta. Sementara pembangunan perpustakaan, gerbang dan menara terpaksa ditunda karena ketiadaan biaya.

Pembangunan dilanjutkan tahun 1989, Masjid Raya Pase direnovasi dengan anggaran mencapai Rp 117.292.000. Peletakan batu pertama renovasi bangunan masjid dilaksanakan pada 11 Oktober 1998, dengan bangunan artistik yang luas dan megah. Anggaran renovasi itu menelan biaya hingga Rp 9.819.000.000. Pembangunannya dilakukan setelah membongkar bangunan Masjid Pase lama.

Tahun 2009 lalu, Pemerintah Aceh memberikan dana Rp 3 miliar untuk pembangunan lantai yang terbuat dari keramik Yunani. ditambah lagi tahun berikutnya Pemda Aceh Utara memberikan dana dari APBA Provinsi sebesar Rp 180 juta untuk lanjutan pembangunan. Untuk pembangunan menara besar, pintu gerbang, interior dan perluasan halaman dibutuhkan biaya sekitar Rp 30 miliar. ***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Saturday, October 7, 2017

Masjid Raya Ruhama Takengong Aceh Tengah

Masjid Raya Ruhama Takengon Kabupaten Aceh Tengah.

Takengon adalah ibukota kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Takengon terkenal dengan udara nya yang sejuk karena letak geografisnya yang berada di ketinggian dataran tinggi Gayo dan juga terkenal dengan kedai kedai kopinya yang khas. Selain itu kota ini juga berada ditepian danau laut tawar salah satu danau terbesar di Indonesia yang tekenal dengan pemandangannya yang menawan.

Takengon memiliki sebuah masjid yang cukup terkenal yakni Masjid Raya Ruhama Takengon. Masjid Raya Takengon ini terletak di tengah kota Takengon, merupakan masjid utama atau masjid raya di kota ini.

Masjid Raya Ruhama Takengon
Jln. Merah Mersa Takengon Barat
Kecamatan Lut Tawar Kab. Aceh Tengah
Provinsi Aceh


Masjid Ruhama Takengon didirikan pada tahun 1969, di atas tanah wakaf seluas 1.431 meter persegi. Saat ini masjid yang memiliki daya tampung mencapai 2000 jamaah Masjid Ruhama Takengon terkenal desainnya yang menarik. Perpaduan antara gaya modern dan tradisional suku Gayo, suku yang merupakan penduduk asli wilayah dataran tinggi Gayo.

Masjid ini juga mudah ditemukan. Lokasinya berada di jalan utama kota Takengon. Melintas dari Banda Aceh menyusuri pesisir pantai barat Aceh berbelok di Bireun, lalu menyusuri jalan berliku dengan pemandangan indah pegunungan, dan udara yang sejuk lagi segar, melintasi kabupaten Bener Meriah salah satu dari tiga kabupaten yang berada di dataran tinggi Gayo, dan kemudian sampai di Takengon, delapan jam perjalanan darat.

Interior Masjid Raya Ruhama, Takengon, Aceh Tengah.

Arsitektur Masjid Raya Ruhama

Masjid ini mudah dikenali dengan kubah emas di gapuranya dari jauh pun sudah terlihat kemilau nya. Kubah utama masjid ini berwarna putih dengan ornamen ukiran khas tradisional Gayo. Bahkan bisa terlihat dari ketinggian puncak pegunungan yang melingkari kota Takengon. Masjid Ruhama Takengon mengambil gaya masjid di Asia barat yang memiliki banyak tiang di bagian terasnya, namun memiliki bagian dalam yang lapang.

Interior masjid ini semakin cantik dengan perpaduan mural bernuansa gayo dan barisan kaligrafi. Mihrab utama dalam masjid Ruhama terisi dengan kaligrafi islami yang cantik. Lapisan karpet lembut terhampar memenuhi sisi dalam masjid. Sejuknya udara pegunungan membuat masjid ini tidak membutuhkan penyejuk udara.

Sebagai Masjid Raya masjid ini menjadi pusat berbagai kegiatan sosial keagamaan untuk kota Takengon dan sekitarnya. Seperti Musabaqah Tilawatil Quran yang menjadi bagian dari Pelaksanaan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) XV Kemenag se-Aceh di Takengon, yang baru saja resmi ditutup oleh Wakil Bupati Aceh Tengah, Drs. Khairul Asmara, Minggu malam 7 Agustus 2016.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga



Saturday, September 30, 2017

Masjid Agung Jeneponto, Sulawesi Selatan

Masjid Agung Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Jeneponto adalah salah satu Kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Jeneponto Beribukota di Jeneponto. Secara geografis wilayah Kabupaten Jeneponto ini menghadap ke selat Flores di sebelah selatannya, disebelah utaranya berbatasan dengan kabupaten Gowa, di sisi barat berbatasan dengan kabupaten Takalar sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Bantaeng.

Sejak tahun 1976 kabupaten Jeneponto telah memiliki Masjid Agung yang cukup megah. beralamat di Jl. Lanto Dg Pasewang, Kelurahan Balang Toa, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi selatan.

Masjid Agung Jeneponto
Jl. Lanto Dg Pasewang, Kelurahan Balang Toa
Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto
Sulawesi selatan 92315



Masjid Agung Jeneponto ini dibangun di atas tanah wakaf seluas 3.455 meter persegi dan luas bangunan 1.200 meter persegi. Bangunan masjid ini dilengkapi dengan menara tunggal yang mirip dengan mercusuar, sedangkan hampir seluruh bangunan masjid-nya di cat dengan warna putih.

Masjid Agung Jeneponto ini cukup megah ditambah lagi dengan halamannya yang cukup luas, nyaman untuk Jemaah yang datang ke masjid ini dengan kendaraan. bangunan masjid ini dibangun berlantai dua, ada tangga besar yang dibangun sebagai akses bagi Jemaah langsung ke lantai dua masjid.

Interior Masjid Agung Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Sebagai Masjid Agung Kabupaten, Masjid Agung Jeneponto ini menjadi pusat aktivitas ke-Islaman di Kabupaten Jeneponto, termasuk sholat dua hari raya dan perayaan hari hari besar Islam tingkat kabupaten Jeneponto.

Dan sekali dalam setahun, masjid agung Jeneponto ini menjadi tempat pelepasan dan penyambutan Jemaah haji yang berasal dari kabupaten Jeneponto. Tak pelak setiap bulan haji, masjid ini dipadari oleh para pengantar dan penjemput Jemaah haji yang memadati masjid, meluber ke pekarangan bahkan hingga ke jalan raya.***
.
------------------------------------------------------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------------------
.
Referensi

Baca Juga



Sunday, September 24, 2017

Masjid Besar Baitul Makmur Krueng Sabee

Masjid Besar Baitul Makmur Krueng Sabee, Aceh Jaya

Masjid Baitul Makmur terletak di lintasan Meulaboh Banda Aceh, tepatnya di Keude Krueng Sabee, Aceh Jaya, kurang lebih 12 Km dari kota Calang. Masjid yang bergaya arsitektur melayu ini dibangun pascatsunami melanda Aceh pada 2004 silam. Bangunan masjid memiliki delapan kubah, masing-masing satu kubah utama, tiga kubah di pintu masuk, dan empat kubah di sudut masjid.

Selain untuk tempat ibadah, Masjid Baitul Makmur ini sering digunakan pengguna jalan sebagai tempat istirahat saat lelah berkendara. Selain tempatnya yang strategis, pengungjung juga bisa menggunakan fasilitas masjid untuk kebutuhannya, seperti kamar mandi da WC umum. Bagi pengendara mobil pun tidak khawatir untuk memarkirkan kendaraannya, karena di area masjid tersedia lahan parkir yang luas dan tidak mengganggu pengguna jalan lainnya.

Mesjid Besar Baitul Makmur Krueng Sabee
Keude Krueng Sabee, Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya
Aceh 23654, Indonesia


Di latar depan masjid adalah Tugu Semangat Perjuangan yang dibangun oleh masyarakat setempat. Tugu tersebut merupakan tonggak sejarah  serta saksi bisu pada masa konflik dulu, tugu Keude Krueng Sabee ini sudah pernah dibangun oleh pemuda setempat pada tahun 1980-an.

Pada saat terjadinya gempa bumi dan tsunami Aceh, tugu tersebut hancur total. Pasca terjadinya tsunami tugu tersebut dibangun kembali oleh para marinir yang membuat posko di keude krueng sabee dalam rangka rehab rekonstruksi Aceh pada masa itu.

Di seputaran masjid terdapat toko-toko yang menjual aneka macam kebutuhan. Jika lelah dalam perjalanan, pengunjung dengan mudah memilih warung kopi untuk tempat melepaskan lelah. Beraneka macam minuman dan makanan tersedia, pengunjung bisa menikmati Mie Aceh dan kopi khas Aceh yang memanjakan lidah.

Interior Masjid Besar Baitul Makmur Krueng Sabee, Aceh Jaya

Tugu Semangat Perjuangan mempunyai rasa kebanggaan tersendiri bagi masyarakat khususnya di Kemukiman Krueng Sabee, karena tugu tersebut  mempunyai ciri-ciri khas dan belum ada di tempat lain. Tugu ini diresmikan oleh Bupati Aceh Jaya Ir. Azhar Abdurrahman pada hari Sabtu (21 Mei 2016).

Tugu ini merupakan simbol kekompakkan dalam masyarakat khususnya warga Keude Krueng Sabee, sehingga dinamakan “Tugu Semangat Perjuangan”. Tugu tersebut merupakan tonggak sejarah  serta saksi bisu pada masa konflik dulu, tugu Keude Krueng Sabee.

Referensi