Sunday, October 28, 2012

Islam di Guinea


Masjid Agung Conarky di Ibukota Guinea (foto dari wikipedia)

Dimanakah letak Republik Guinea ?

Republik Guinea adalah sebuah negara di pantai barat benua Afrika bekas jajahan Prancis dengan nama resmi the Republic of Guinea, dalam bahasa Prancis disebut République de Guinée. Sebelum merdeka dikenal dengan nama French Guinea atau Guinée française, sejak merdeka hingga saat ini seringkali disebut sebagai Guinea-Conakry untuk membedakan dengan negara tetangganya yang sama sama bernama Guenea yakni Guinea-Bissau dan the Republic of Equatorial Guinea.

Negara berpenduduk 10,057,975 jiwa dengan luas wilayah 246,000 kilometer persegi ini membentuk seperti bulan sabit diantara negara negara tetangganya. Hampir keseluruhan wilayahnya membentang di daratan Afrika hanya bagian baratnya saja yang menghadap ke samudera Atlantik. Conarki, ibukota negara ini merupakan salah satu kota yang menghadap ke Samudera Atlantik.


Guinea berbatasan dengan Samudera Atlantik di sisi barat, disebelah utara dengan Guinea-Bissau, Senegal, dan Mali, disebelah selatan bertetangga dengan Sierra Leone, Liberia, dan Pantai Gading (Côte d'Ivoire). Sungai Gambia yang membelah negara Senegal dan Gambia serta Sungai Niger yang mengalir hingga ke Siera Leone, berasal dari pegunungan pegungan Guinea.

Islam di Guinea

Penduduk Guinea Mayoritas beragama Islam, menjadikan negara ini sebagai salah satu negara berpenduduk muslim mayoritas di dunia. Penduduk di negara ini terdiri dari 24 (dua puluh empat) etnis dan suku terbesarnya dalah suku Fula (40%), Mandingo (30%), dan suku terbesar ketiganya adalah suku Susu (20%), nama suku yang terdengar aneh untuk orang Melayu, karena sama dengan nama minuman.

Merujuk kepada data statistik  tahun 2005 yang lalu, pemeluk Islam di Gyana mencapai 85% dari total penduduk negeri tersebut. Sebagian besar muslim Guineaa merupakan muslim Suni bermazhab Maliki dan aliran sufi Qodiri dan Tijanu. Guinea merupakan bekas negara jajahan Francis sejak 1891 namun pengarus Perancis di negara ini sangat lemah.

Guinea merdeka dari Prancis tahun 1958, Ahmed Sékou Touré, seorang muslim yang beraliran Marxist naik menjadi presiden pertama Guinea namun sama sekali tidak berpihak kepada Islam. Baru ketika populatirasnya merosot tajam di tahun 1970-an, dia mulai merapat ke berbagai institusi Islam untuk melegatimasi kekuasaannya. Touré's wafat di tahun 1984 dan jalinan kerjasama antara komunitas Islam yang merupakan mayoritas di negara tersebut terus terjalin hingga hari ini.

Masjid Agung Conarky

Di kota Conarky, Ibukota Guinea berdiri sebuah masjid agung bernama The Conakry Grand Mosque, Grande mosquée de Conakry, Mosquée Fayçal atau Masjid Agung Conarky yang merupakan masjid terbesar di Afrika Barat. Masjid ini berdiri di pusat kota Conarky bersebelahan dengan Rumah Sakit Donka Hospital di sisi timur Conakry Botanical Garden.

Masjid Agung Conarky dibangun semasa pemerintahan Ahmed Sékou Touré, dengan dana hibah dari Raja Fahd, Raja Saudi Arabia. Diresmikan dan dibukan untuk umum tahun 1982 sebagai masjid terbesar ke empat di benua Afrika dan terbesar di Afrika barat, mampu menampung 2500 (dua ribu lima ratus) jemaah di lantai atas untuk jemaah wanita dan 10,000 (sepuluh ribu) jemaah pria di lantai dasar, serta masih ada area di esplanade yang dapat menampung hingga 12,500 (dua belas ribu lima ratus) jemaah. Di taman masjid ini juga berdiri bangunan mausoleum (makam) bagi pahlawan nasional Guinea yakni Samori Ture, Sékou Touré (mantan presiden pertama) dan Alfa Yaya.

Sayangnya, masjid megah ini kurang mendapatkan perawatan yang memadai dari pemerintah Guinea. Meskipun sempat mendapatkan dana hibah sebesar 20 juta Found Guinea dari pemerintah Saudi Arabia di tahun 2003 lalu. Lebih mirisnya lagi masjid ini sempat menjadi saksi pembantaian terhadap para demonstran tanggal 2 Oktober 2009 yang menjadi sejarah kelam negara itu di masa merdeka.

2 Oktober 2009 terjadi demonstrasi besar besaran di negara tersebut oleh sekitar 50 ribu masa menentang pemerintahan Junta militer yang naik tahta setelah melakukan kudeta militer tahun 2008. Namun aksi demonstrasi yang memang dilarang oleh junta militer tersebut disambut dengan berondongan gas air mata dari aparat keamanan dan tak sampai disitu berondongan peluru tajam menewaskan 58 jiwa di area esplanade Masjid Agung Conarky ini. sementara lainnya tewas di stadion utama negara tersebut.***

Source : dari berbagai sumber


Baca juga