Sunday, August 13, 2017

Masjid Agung Baitul Makmur Jepara

Masjid Agung Jepara, Jawa Tengah

Masjid Agung Baitul Makmur Jepara berada di desa Kauman, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Berdiri megah di sebelah selatan Alun-alun kota Jepara. Pertama kali dbangun oleh Pangeran Arya Jepara (1579-1599), anak angkat dari Ratu Kalinyamat, ketika terjadi perpindahan pusat pemerintahan Kerajaan Kalinyamat dari Kota Kalinyamat ke Jepara. Bangunan masjid mengalami renovasi sebanyak tiga kali. Mulai dari tahun 1686, 1929, dan terakhir pada tahun 1989 untuk menyesuaikan dengan kebutuhan akan banyaknya jamaah. 

Dulu Masjid ini semuanya berbahan dasar kayu jati, namun setelah di rehab dan diperbesar bangunan ini konstruksinya berubah menjadi beton dan berdinding tembok seperti masjid modern saat ini. Namun demikian beberapa bagian bangunan masih menyisakan kekunoan-nya dengan menggunakan kayu sebagai bahan bangunannya. Sebagai contoh ruang masjid bagian depan plafonnya terbuat dari kayu jati lembaran yang dipolitur berkilat. Begitu pula soko gurunya, meski terbuat dari dari beton namun bagian luar dililit kayu jati berukir.

Masjid Agung Baitul Makmur Jepara
Jl RA Kartini No.1 Jepara 59417 RT 2 RW I
Kelurahan Kauman Jepara 59417
Jawa Tengah, Indonesia


Bagian lain yang bernuansakan ukiran kayu adalah plafon serambi luar yang dihias dengan ukiran yang indah, kayu-kayu besar berukir bisa kita lihat dari bawah dengan jelas. Ukirannya-pun beragam ada yang bernuansakan bunga-bunga seperti ukiran asli Jepara, namun ada pula yang berbentuk khot atau tulisan arab yang dapat kita lihat dibagian pintu dan jendela. 

Mihrab masjid juga berlapiskan kayu berukir serta dipelitur sehingga indah dilihat. Jepara memang sangat terkenal dengan ukiran kayu jati nya, wajar bila masjid Agung Baitul Makmur ini sarat dengan aneka ukiran kayu jati di bagian interiornya. 

Foto tua Masjid Agung Jepara

Ukiran ukiran kayu jati di dalam masjid ini memang sangat menyolok dan menjadi daya Tarik yang cukup memukau. seperti pada bagian kayu yang menutup pilar pilar beton di dalam masjid, bagian mihrab hingga ke bagian plafon dan kusen kusen pintu dan jendela masjid.

Ada fasilitas Hot Spot di seputaran Masjid Agung Jepara ini, sehingga jika anda membawa Laptop atau HP anda bisa berinternet ria di taman sebelah utara Masjid Agung. Selain melihat keindahan Masjid dan shalat bersama, juga bisa beristirahat santai di Taman sebelah masjid Agung yang setiap sorenya tiada sepi dari pengunjung.
.

Saturday, August 12, 2017

Masjid Sunan Muria

Komplek Makam dan Masjid Sunan Muria di puncak bukit muria.

Masjid Sunan Muria merupakan Masjid yang dibangun oleh Sunan Muria di puncak Bukit Muria sekitar 18 KM sebelah utara Kudus, Jawa Tengah. Kini masjid ini berada di komplek makam Sunan Muria. Lokasi masjid ini yang berada di ketinggian bukit Muria, membutuhkan upaya lebih bagi siapa saja yang hendak kesana. Rata rata mereka yang daaing ke masjid ini adalah para peziarah ke Makam kanjeng Sunan Muria yang merupakan salah satu dari Sembilan tokoh Wali Songo yang berada di lokasi yang sama.

Bukit Muria kini tidak sekedar tempat ziarah melainkan juga telah menjadi lokasi wisata karena memang menyuguhkan pemandangan yang cukup indah dari puncak bukit muria. Untuk mencapai lokasi pada ketinggian 600-800 meter ini pengunjung harus menapaki jejeran anak tangga mendaki yang teramat panjang.

Masjid Sunan Muria
Komplek Makam Makam Sunan Muria
Colo, Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59353, Indonesia


Jalan mendaki yang ditempuh memiliki kemiringan kurang lebih 25 hingga 35 derajat jalan mendakinya tertata rapih dari bebatuan dan dibuat undak-undakan anak tangga, Namun juga tersedia jasa ojek motor mengantar para  peziarah ke lokasi. 

Di sepanjang kanan kiri jalur pendakian juga banyak berdiri warung-warung kelontong. Mereka menjajakan berbagai macam barang dagangan. Mulai dari pakaian, sayur mayur, buah-buahan, makanan siap santap hingga botol-botol kosong air mineral.

Di gunung ini juga terdapat air terjun Montel yang cukup indah, beraneka jenis tanaman anggrek, aneka sayur, aneka buah, aneka umbi, makanan khas pecel dan sejumlah kerajinan dari kayu yang dijajakan oleh para pedagang di kiri kanan jalur menuju ke Masjid dan makam Sunan Muria. Di seputar Masjid dan makam Sunan Muria, kini juga sudah tersedia penginapan, tempat peristirahatan, warung makan dan minuman.

Tangga naik ke puncak bukit menuju makam dan Masjid Sunan Muria di Bukit Muria 

Komplek Masjid dan Makam Sunan Muria di Gunung Muria ini merupakan bagian terpadu dari kawasan wisata Colo dan kini dikembangkan oleh pemerintah sebagai lokasi objek wisata religi dan pada bulan Januari 2017 pemerintah setempat merencanakan membangun rest area bagi para pwziarah ke sana. Pembangunan tersebut termasuk menata kawasan ini untuk memberikan kenyamanan bagi para pengunjung.

Komplek masjid dan makam Sunan Muria di puncak gunung Muria ini selalu ramai dikunjungi peziarah setiap harinya. Pada hari hari besar Islam, pengunjung bahkan mencapai ribuan orang perharinya memadati tempat ini dan rela mengantri cukup panjang untuk berziarah sejak dimulai dari rute pendakian.

Interior Masjid SUnan Muria

Kunjungan Gusdur

Sampai tulisan ini dimuat, tercatat Presiden Republik Indonesia ke empat, KH Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan nama Gus Dur menjadi satu satunya presiden Republik Indonesia yang pernah berziarah ke makam dan Masjid Sunan Muria ini. Beliau berziarah kesana pada 13 April 2011.

Kunjungan Gus Dur Ke Makam dan Masjid Sunan Muria ini sebagai bagian dari rangkaian kunungan kerja beliau ke Demak. Sebelumnya beliau melaksanakan sholat Jum’at berjama’ah di Masjid Agung Demak, berdialoh dengan para petani juga menyempatkan diri bertemu dan berdialog dengan Tokoh spiritual muda Habib Jafar Assegaf serta Kiai Syaro’ni.

Referensi

Kompas terbit 14 April 2011

Baca Juga


Sunday, August 6, 2017

Masjid Kota Madinah Al Mubarokah Sampit

Patung ikan Jelawat di taman Jelawat di tepian sungai Mentaya kota Sampit dengan latar belakang Masjid Madinah Al-Mubarokah atau biasa disebut Masjidkota. (pict from IG @kota_sampit)

Tempat keren satu ini adalah Patung Ikan Jelawat yang merupakan aikon kota Sampit ibukota kabupaten Kotawaringin Timur provinsi Kalimantan Tengah. lokasinya berada di tepian sungai Mentaya di pusat keramaian kota Sampit. Lokasi yang nyaman untuk hang out, ditambah lagi dekat dengan masjid yang kelihatan di latar belakangnya itu.
.
Masjid di dekat patung ikan jelawat ini aslinya bernama Masjid Al-Madinatul Mubarokah sebagaimana tertulis dalam aksara arab di tembok depan masjid ini. Namun lebih dikenal masyarakat luas dengan sebutan “Masjid Pelabuhan” karena memang dekat dengan pelabuhan atau “Masjid Kota” karena letaknya yang ditengah kota atau “Masjid Pasar” juga karena lokasinya yang berada di pasar kota Sampit. Masjid ini diresmikan tahun 2000.

Masjid Al Madinatul Mubarokah
Mentawa Baru Hulu, Mentawa Baru/Ketapan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah 74312, Indonesia



Masjid ini memang unik, seperti bangunan ruko yang panjang berlantai tiga, lantai dasarnya merupakan kios kios para pedagang pasar, dan masjid ini berada di lantai atasnya. akses menuju ke masjid ini melalui tangga sisi selatan atau ujung bangunan ruko yang mengarah ke tugu ikan jelawat di taman jelawat.

lokasinya memang sangat strategis dan tentu saja menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum muslimin yang sedang berada disekitar pusat kota Sampit, baik yang sedang berwisata di taman jelawat ataupun yang sedang belanja di pasar juga bagi yang sedang berada disekitar pelabuhan Sampit.

Tradisi Tajil Romadhon

Seperti masjid masjid besar di Indonesia lainnya, Masjid Kota ini juga menyediakan tajil gratis bagi para Jemaah di masjid ini. Di bulan suci Romadhon masjid ini tak pernah sepi dari Jemaah baik siang dan malam. Aktivitas itu sudah menjadi pemandangan biasa di Masjid Kota saat siang hari di bulan ramadan. Ditambah lagi lokasi masjid yang sangat strategis karena berdekatan dengan Pusat Perbelanjaan Mentaya dan Ikon Patung Jelawat.

Masjid Madinah Al-Mubarokah (Masjid Kota) di Kota Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantang Tengah.

Bubur ayam khas Banjar dengan campuran bumbu spesial yang banyak dicari masyarakat Sampit merupakan menu andalan dan khas dari Masjid Kota di Sampit ini. Di lantai paling atas masjid tersebut pengurus masjid mempersiapkan menu bubur ayam khas Banjar. baik aktivitas memasak hingga menghidangkan menu khas tersebut.

Jumlah bubur ayam yang disediakan di masjid ini mencapai ratusan porsi secara gratis. Selain itu juga ada pelangkap yakni takjil lainnya, seperti kurma dan kue. Untuk minumannya sendiri teh hangat. Minimal seratus porsi yang disediakan pengurus di masjid ini.  Karena bubur tersebut dibuat khusus selama bulan suci Ramadan. Sehingga masyarakat selalu berdatangan untuk memburu bubur tersebut sebagai menu untuk berbuka puasa.***

Referensi

borneopages.blogspot.co.id  - mendadak masjid sampit

Baca Juga



Saturday, August 5, 2017

Islamic Center Koto Baru Solok

Islamic center Kuto Baru Solok (pict from google)

Masjid Agung Nurul Mukhlisin Islamic Center Koto Baru atau biasa dikenal sebagai Islamic Center Koto Baru, adalah pusat ke-Islaman di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Koto Baru merupakan ibukota dari kabupaten Solok, itu sebabnya Masjid dan Islamic Center ini disebut dengan Islamic Center Koto Baru.

Pembangunan masjid ini dilaksanakan pada masa pemerintahan Bupati Solok Syamsu Rahim dan wakil Bupati Desra Ediwan. Masjid megah ini pertama kali dibangun tahun 1994 dikomplek Kantor Bupati Solok lama, diresmikan oleh Menteri Penerangan Harmoko pada tahun 1994.

Islamic Center Koto Baru
Kecamatan Kubung, Kab. Solok
Sumatera Barat


Ketika Kantor Bupati Solok pindah ke Aro Suka, maka keberadaan masjid sudah di manfaatkan oleh masyarakat setempat untuk kegiatan keagamaan. Masjid ini mengalmi kerusakan parah akibat gempa tahun 2007 dan 2009 silam sehingga tidak layak digunakan.

Setelah dilakukan rehab sedikit kondisinya masih meragukan. Baru kemudian di tahun 2013 Kementerian Agama Mengusulkan ke Bupati Solok agar dilakukan pembangunan Islamic Centre yang baru yang merupakan Ikon Kabupaten Solok yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana LPTQ, PHBI, BASNAS, MUI  yang lengkap termasuk rencana diadakannya mini Makkah

Usulan Kementerian Agama di respon baik oleh Bupati Solok dan di kabulkan oleh DPRD, maka langsung dianggarkan oleh Pemda untuk APBD Tahun 2014. Islamic Center yang dibangun dengan dana APBD ini berdiri dilahan bekas gedung pertemuan Solok Nan Indah, lahan bekas gedung DPRD Kabupaten Solok dan MAsjid Agung Nurul Mukhlisin.

Pembangunan fisik yang dimulai semenjak pertengahan tahun 2014 dikerjakan oleh PT.Nindya Karya dengan sistim kontrak multi year. Selain merobohkan bangunan lama, pembangunan baru ini juga mengorbankan gedung DPRD yang saat itu difungsikan sebagai kantor BPD dan kantor Pustaka Daerah.

Islamic Center Kuto Baru Solok (pict from IG @maizalchaniago )

Setelah hampir delapan bulan pekerjaan fisik, bangunan ini diresmikan pada tanggal 30 Juli 2015, diakhir masa jabatan Syamsu Rahim dan Desra yang jatuh pada 2 Agustus 2015. Ada kesamaan masjid yang sekarang ini dengan masjid sebelumnya yang rusak akibat gempa, yakni pada saat diresmikan keduanya sama-sama fisiknya belum selesai seratus persen. pada saat diresmikan pembangunan masjid ini baru mencapai 60% dari gambar perencanaan.

Sholat Ied Pertama

Lebaran Idul Fitri 1436H / 2015 yang lalu merupakan sholat idul fitri pertama yang diselenggarakan di masjid ini, dan dihadiri oleh Bupati Solok, H. Syamsu Rahim, Wakil Bupati Solok, H. Desra Ediwan, Ketua DPRD Kabupaten Solok,  Hardinalis Kobal, Kabag Kesra, Suharmen.

Sholat Idul Fitri pertama tersebud juga dihadiri oleh anggota DPD RI dari daerah Sumbar, H. Nofi Chandra dan unsur Muspida serta SKPD lainnya serta ribuan umat Islam dari berbagai nagari di kabupaten Solok memadati masjid ini hingga melimpah hingga ke halaman bahkan  berjejer sampai ke tepi jalan raya Solok-Padang.

Islamic Center Koto Baru ini dibangun dengan dana 25 milyar rupiah dari APBD kabupaten Solok tahun 2014, berlantai dua dan akan kembangkan untuk banyak hal. Diantaranya tempat manasik,  pemondokan, lapangan parkir dan taman yang indah dan fasilitas pendukung lainnya, termasuk memfungsikannya untuk berbagai kegiatan seperti pesantren, belajar tafsir dan juga pesrpustakaan.

Referensi

simaskemenag – masjid nurul mukhlisin

Sunday, July 23, 2017

Masjid Al-Ra'iyah DPRD Sumsel

Masjid Al-Ra'iyah DPRD Smsel

Masjid Al-Ra’iyah adalah masjid megah di komplek perkantoran DPRD provinsi Sumatera Selatan di kota Palembang. Masjid ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan muslim di kawasan perkantoran tersebut dan sekitarnya. Secara harfiah “Al-Ra’iyah” yang menjadi nama masjid ini berarti “Rakyat”, nama yang pas untuk masjid yang berdiri dan dibangun di komplek para wakil rakyat.

Selama ini karena belum adanya masjid, pelaksanaan sholat Jum’at di komplek DPRD Sumsel ini dilakukan di mushola DPRD yang berada di lantai dasar gedung DPRD Sumsel. Dengan selesainya pembangunan masjid ini, pelaksanaan sholat jum’at dan aktivitas ke-Islaman dipusatkan di masjid ini, tidak saja bagi anggota dewan, staf dan pegawainya namun juga bagi masyarakat muslim di sekitarnya.

Masjid Al-Ra 'iyah DPRD Sumsel
Jalan POM 9 Kampus, Kelurahan Lorok Pakjo
Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang
Sumatera Selatan 30137



Pembangunan masjid ini dilaksanakan sejak tahun 2013 ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Sumsel H Alex Noerdin dan Ketua DPRD Provinsi Sumsel (2009-2014) Ir Wasista Bambang Utoyo didampingi pejabat DPRD Provinsi Sumsel sebagai simbolis dimulainya pembangunan masjid tersebut.

Pembangunan masjid ini atas prakarsa dari pimpinan DPRD Sumsel periode 2009-2014 dan dirancang oleh arsitek Kasmidi Jaya. Dana pembangunannya bersumber dari dana APBD 2013/2014, pelaksanaannya dilakukan dua tahap, tahap pertama menghabiskan dana Rp 3,2 milyar dan tahap kedua Rp 3,8 milyar sehingga total dana yang digunakan sebesar Rp 7 Milyar.

Peresmian Masjid Al-Ra’iyah dilaksanakan pada hari Jum’at 6 Februari 2015 yang lalu oleh Gubernur Sumatera Selatan, H. Alex Nurdin ditandai dengan pemotongan pita bersama sama dengan para pimpinan lembaga pemerintah provinsi Sumatera Selatan, dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti oleh H. Alex Nurdin serta penyelenggaraan sholat Jum’at untuk pertama kalinya di masjid tersebut.

Masjid Al-Ra'iyah DPRD Smsel

Turut hadir dalam acara peresmian tersebut diantaranya Ketua DPRD Sumsel, HM Giri Ramanda N Kiemas, Pangdam II Sriwijaya, Mayjen TNI Iskandar M Syahril dan Kapolda Sumsel Iza Fadri, Plt Walikota Palembang Harnojoyo, para anggota DPRD Sumsel, tokoh Agama Sumsel, serta sekitar 300 lebih undangan.

Gubernur Sumsel H Alex Noerdin dalam sambutannya mengatakan bahwa masjid Al-Ra’iyah ini terlalu besar bila hanya digunakan untuk jajaran DPRD Sumsel saja, karenanya beliau menyarankan kepada pengelola masjid agar dapat membuka pintu yang langsung berhadapan dengan jalan agar dapat memudahkan masyarakat yang ingin menggunakan masjid ini dengan mengutamakan juga keamanan.

Referensi




Saturday, July 22, 2017

Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak

Masjid Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak.

Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak merupakan bangunan tua bersejarah yang berada disisi timur Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak, sementara kebanyakan peziarah masuk lewat selatan maka masjid ini mungkin seringkali terlewati. Akses masuk ke dalam Masjid bisa melalui lorong samping yang menuju ke Makam Sunan Kalijaga, atau lewat depan dengan menaiki sejumlah undakan.

Jika peziarah datang dari sisi timur ini, mereka bisa berwudlu di masjid, shalat sunat di sana, baru kemudian pergi berziarah ke makam dan sudah dalam keadaan suci. Masjid ini terlihat lebih kecil dibanding Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dan Masjid Agung Demak, dua masjid dimana Sunan Kalijaga ikut terlibat dalam pembangunannya.

Masjid Sunan Kalijaga
Desa Kadilangu, Kecamatan Demak Kota
Kabupaten Demak



Masjid Sunan Kalijaga di Kadilangu ini pada awalnya memang dibangun dimasa Sunan Kalijaga masih hidup sekitar tahun 1532, kala itu masih berupa Surau kecil. Setelah Sunan Kalijaga wafat dan digantikan oleh puteranya yang bernama Sunan Hadi (putera ketiga), surau tersebut disempurnakan bangunannya hingga berupa masjid seperti terlihat sekarang ini.

Pembangunan oleh Sunan Hadi dilakukan pada tahun 1534H sebagaimana disebutkan di sebuah prasasti yang terdapat di atas pintu masjid sebelah dalam yang berbunyi : "Meniko titi mongso ngadekipun masjid ngadilangu hing dino Ahad Wage tanggal 16 sasi dzul-hijjah tahun tarikh jawi 1456, (ini waktunya berdiri Masjid Kadilangu pada hari Ahad Wage tanggal 16 bulan Dzul-hijjah tahun tarikh Jawa 1456).

Masjid Kadilangu ini sudah beberapa kali mengalami perbaikan di beberapa bagian, sehingga banyak bagian bangunannya yang sudah tidak asli, terutama bagian luarnya. Selain tergolong masjid tua, masjid ini memiliki keunikan yang lain yakni mustaka yang atapnya mirip dengan berbagai masjid lama seperti Masjid Agung Demak, Masjid Agung Kauman Semarang serta banyak lagi, atap limasan itu bersusun dua. Di kubah terpasang pengeras suara yang difungsikan untuk mengumandangkan azan agar terdengar hingga ke pelosok daerah.

Interior Masjid Sunan Kalijaga

Di bagian serambi masjid terdapat dua buah beduk yang berfungsi sebagai penanda masuk waktu shalat. Dari dua beduk itu salah satunya yang berada di sebelah kiri masjid merupakan peninggalan Sunan Kalijaga. Bedug bersejarah itu hingga saat ini masih kuat dan terlihat kokoh. Di ruangan utama masjid terdapat empat saka guru atau tiang masjid yang semuanya masih asli dan terbuat dari kayu jati. Begitu pula pintu dan jendela masjid masih utuh dari kayu jati belum diganti.

Empat sokoguru penyangga atap berwarna kuning bergaris hitam di sudutnya, polos tanpa ornamen. Hanya bagian pengimaman yang terlihat cukup menarik dengan ornamen suluran yang anggun. Ruang utama Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu terlihat relatif sederhana, dengan, mimbar kayu jati dengan ukiran cantik, dan sejumlah lampu gantung.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Jauharotun Nafis diketahui bahwa arah kiblat masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak diketahui kemelencengannya sebesar 8,42 derajat. Tetapi respon tamir terhadap kemelencengan arah kiblat masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak kurang, karena menurut pandangan tamir masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak bahwa ijtihad Sunan Kalijaga dalam menetapkan arah kiblat tidaklah sembarangan, yakni menggunakan laku spiritual yang pasti tepat dan harus diikuti tanpa ada keraguan. Wallahu a’lam bishshowwab.***


Sunday, July 16, 2017

Masjid Cipto Mulyo Boyolali, Masjid Peninggalan PB X

Masjid Cipto Mulyo Boyolali, denah bangunan masjid ini miring sangat jauh dari arah kiblat, pengurus masjid terpaksa memiringkan sajadah di dalam masjid ini tanpa mengubah arah bangunannya.

Masjid Cipto Mulyo yang terletak di Kecamatan Pengging, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada awalnya hanyalah masjid untuk kerabat raja Keraton Surakarta. Masjid dengan desain limasan ini dulu menjadi tempat jujugan dari kerabat keraton seusai melakukan peristirahatan dengan siraman (mandi) di Umbul Pengging.

Masjid kuno ini berdiri pada tahun 1838 dan terletak di komplek kawasan wisata Umbul Pengging. Di tempat ini tak hanya ada masjid kuno peninggalan raja Keraton Surakata, Pakubuwono (PB) X, tetapi ada juga tempat khusus pemandian kerabat raja, yaitu Umbul Pengging dan Umbul Sungsang, juga pesanggrahan.

Masjid Cipto Mulyo
Ngaliyan, Banyudono, Bendan, Boyolali
Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah 57373


Di belakang masjid terdapat makam pujangga Jawa kuno, Yosodipuro dan Ronggowarsito. masjid ini terbilang cukup unik. Salah satunya terlihat dari namanya yang menggunakan bahasa Jawa, tidak seperti masjid lainnya yang menggunakan bahasa Arab. Cipto Mulyo sendiri memiliki arti menciptakan kemuliaan di dunia dan akhirat.

Dilihat dari bangunannya pun terasa kuno yang merupakan perpaduan bagunan nuansa Jawa. Di mana desain masjid ini adalah limasan, menyerupai pendopo. Untuk pilar-pilarnya pun masih menggunakan kayu jati dengan warna krem. Meskipun, umurnya hampir satu abad, masjid ini masih terlihat kokoh dan gagah, berada di tengah-tengah lokasi sumber mata air.

Beberapa kali sudah dilakukan renovasi, tetapi hanya bagian atap dan lantai saja. Kalau untuk bagian dalamnya, termasuk tiangnya yang berasal dari kayu jati, sama sekali belum pernah dilakukan renovasi.

Dekorasi dari masjid dengan lima pintu utama ini masih terasa kekunoannya, seperti keberadaan lampu Jawa klasik. Ditambah ukiran-ukiran yang berada di atas tiap pintu dan jendela dengan sisipan tulisan PB X yang menandakan bahwa pembangunan masjid itu terjadi pada masa pemerintahan PB X.

Interior Masjid Cipto Mulyo Boyolali, perhatikan arah sajadahnya yang miring cukup jauh terhadap arah bangunan masjidnya.
Uniknya lagi, di bagian atas gerbang serambi terdapatnya tulisan aksara Jawa kuno. Aksara Jawa tersebut bertuliskan Adegipun Masjid Cipto Mulyo, Selasa Pon, Kaping 24 Jumadilakhir 1838. Selain itu, juga terdapat bedug dan kentongan yang diletakkan di sisi kanan serambi masjid.

Arah Kiblat Masjid Miring 45 Derajat

Sedangkan di tengah-tengah serambi terdapat arah mata angin, sebagai petunjuk arah kiblat. Ini sangat menarik, karena bangunan masjid ini miring sekitar 45 derajat ke utara dari arah kiblat sehingga shaf pun dibuat miring sesuai arah kiblat. Dan jarum arah kiblat itu dipasang oleh Departemen Agama Wilayah Jawa Tengah.

Kendati secara fisik mengalami renovasi berulang kali, namun perubahan bangunan masjid untuk mengarah ke tepat kilbat tidak dilakukan. "Arah bangunan ini dibiarkan saja, namun shaf tetap mengarah ke kiblat. Lagipula pihak kraton menginstruksikan untuk tidak mengubah bangunan masjid.

Adanya kesalahan kemiringan kiblat dari bangunan itu, diperkirakan yang menjadi arsitektur bangunan Masjid Cipto Mulyo ini merupakan orang Belanda pada waktu itu. Mungkin saja begitu alasannya, sehingga kiblat masjid itu miring 45 derajat.

Referensi


Saturday, July 15, 2017

Masjid Agung Baitunnur Blora

Masjid Agung Baitunnur Blora, bagian bangunan masjid asli sejak masa kesultanan Mataram adalah bangunan yang berada di bagian belakang.

Masyarakat Kabupaten Blora tentu saja tak asing dengan Masjid Agung Baitunnur. Masjid yang merupakan Masjid Agung ini, berada di jantung kota Blora sekaligus merupakan masjid terbesar dan tertua di kabupaten Blora. Masjid Agung ini telah berdiri sejak masa Kesultanan mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung antara tahun 1613-1645 mengutus pangeran Pojok untuk ke Tuban, dari perjalanan pangeran pojok inilah awal berdirinya masjid Baitunnur.

Masjid Baitunnur ini dulunya dikenal dengan nama masjid Doro Ndekem atau dalam bahasa Indonesia artinya adalah Merpati duduk. Disebut demikian karena saat berdirinya masjid ini letak tanahnya lebih rendah dibandingkan dengan alun alun kota  sehingga tampak seperti burung merpati yang sedang duduk (Doro Ndekem).

Masjid Agung Baitunnur Blora
Jl. Alun-alun Barat No.1, Kauman, Kec. Blora Kota
Kabupaten Blora, Jawa Tengah 58213



Masjid Agung Baitunnur dibangun pada tahun 1722 dan pelaksanaan pemugaran pertama dilakukan oleh Bupati R.T. Djajeng Tirtonoto pada tahun 1774 dengan Surya Cengkala “Catur Pandhita Sabdaning Ratu”. Pada tahun 1968 dan 1975 dipugar oleh Bupati Supadi Yudhodarmo dengan tambahan bangunan menara. Pada mimbar terdapat angka tahun dengan huruf Arab dan Jawa, dan terbaca 1718.

Masjid Baitunnur berada di Kelurahan Kauman, Kecamatan Blora, lokasinya berdiri di jantung Kota Blora bersebelahan dengan Alun-alun Kota Blora. Kompleks masjid ini terdiri atas bangunan induk dan bangunan serambi. Bangunan induk beratap susun tiga. Pada bagian puncaknya dihias dengan mustoko dari logam. Komponen artefak kuno yang ada di masjid dan serambi masjid ini antara lain mimbar dari kayu berukir, maksurah, dan 2 buah bedug. Selain itu terdapat prasasti berhuruf Jawa di atas pintu masuk ke ruang utama dan angka tahun 1892 di daun pintu. Pada pintu selatan terdapat angka tahun 1822 dan pintu sebelah utara 1310 H.

Tidak jauh dari Masjid Agung Blora, terdapat makam Sunan Pojok yang dianggap sebagai pendiri masjid ini. Sedangkan makam Sunan Pojok yang ada di Makam Gedong Blora, Jl. Mr. Iskandar 1/1 Blora, atau sebelah selatan Alun-alun Blora, merupakan makam pindahan yang dilakukan oleh R.T. Djojodipo, putra Sunan Pojok Blora.

Interior Ruang Utama (bangunan asli) dari Masjid Agung Baitunnur Blora.

Saat ini masjid Agung Blora memiliki luas kurang lebih 2000 meter persegi, sudah masuk daftar cagar budaya dan merupakan aset sejarah nasional, bersama dengan lima masjid tertua di Jawa Tengah lainnnya. Karena-nya keaslian masjid ini sampai saat ini masih terjaga. Seperti ruang atas masjid yang dulu digunakan sebagai tempat penyimpanan pusaka serta bersemedi masih tetap terpelihara rapi.

Revitalisasi Masjid Agung Baitunnur Blora

Di tahun  2016 yang lalu pemerintah kabupaten Blora menyelenggarakan sayembara design renovasi Masjid Agung Baitunnur Blora sebagai bagian dari upaya revitalisasi Masjid bersejarah tersebut. Renovasi yang direncanakan tanpa menganggu gugat bangunan asli dari Masjid Agung Baitunnur yang akan tetap dijaga ke-asliannya dan dijadikan bangunan utama masjid.

Renovasi dilakukan terhadap bangunan tambahan yang ada di sekitar di bangunan asli termasuk membangun ulang bangunan masjid tambahan di sisi timur bangunan asli menjadi bangunan dua lantai berarsitektur modern yang kemudian di hubungkan langsung ke bangunan utama, membangun fasilitas parkir dan gedung lainnya di sisi barat bangunan utama. Seluruh proses tersebut direncanakan akan dimulai tahun 2018 nanti.***

Referensi

Tabloid infoku edisi 15-7 s/d 22 Agustus 2011


Sunday, July 9, 2017

Masjid Agung At-Taqwa Bondowoso

Masjid Agung At-Taqwa Bondowoso dengan perpaduan dua seni arsitektur, modern dan tradisional.

Masjid Agung At-Taqwa Bondowoso pertama kali dibangun pada tahun 1809, berdiri di atas lahan seluas 5000 meter persegi dengan luas bangunan 2000 meter persegi dan mampu menampung hingga 6000 jema’ah sekaligus. Pembangunan masjid ini berawal ketika Raden Bagus Assra diangkat sebagai patih berdiri sendiri (zelfstanding) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro. Beliau dipandang sebagai pendiri sekaligus penguasa pemerintahan pertama di Bondowoso yang membangun sebuah missigit (masjid) yang kini dikenal sebagai Masjid Agung At-Taqwa

Masjid Agung At-Taqwa Bondowoso
Jl. Letnan Sutarman No. 08 Bondowoso
Kec. Bondowoso, Kabupaten Bondowoso
Jawa Timur 68219



Pada awal pembangunan, masjid ini hanya sebuah surau dengan bangunan yang sederhana. Dinding bangunan masjid masa itu terbuat dari bambu dan atap dari bahan rumbia. Pada tahun  1819, saat  Raden Bagus Assra  diangkat menjadi Ronggo Bondowoso dengan julukan Kyai Ronggo Bondowoso masjid tersebut di sempurnakan dengan menambah pagar bagian depan dan pintu masuk yang di atasnya dilengkapi dengan sebuah beduk besar yang ditabuh setiap menjelang sholat lima waktu. Untuk menuju ke tempat beduk tersebut harus melewati beberapa anak tangga yang terbuat dari batubata. Tangga inilah yang membuat pintu pagar masjid nampak indah dan kokoh.

Dalam perkembangannya  masjid  ini bernama masjid Jami’ At Taqwa Bondowoso, dan dalam perkembangannya masjid jami’ berubah nama menjadi Masjid Agung At Taqwa Bondowoso sebagai masjid kebanggaan warga Bondowoso. Pada tahun 1967 Masjid Jami’ At Taqwa mulai direnovasi, pintu pagar yang menjadi ciri khas masjid ini dibongkar dan diganti dengan pagar besi. Pada saat renovasi inilah untuk pertama kalinya Masjid Jami’ At Taqwa membangun sebuah menara di sebelah selatan bangunan utama yang digunakan untuk menempatkan pengeras suara

Kemudian pemugaran dilakukan lagi tahun 1971 dan diresmikan pada tanggal 12 April 1971 oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud Saat Bupati Bondowoso dijabat oleh R. Arifin Djauharman (1965-1973). Renovasi selanjutnya tahun 1995 pada masa Bupati Bondowoso dijabat oleh Haji Agus Sarosa ( menjabat tahun 1988 – 1998). Dalam renovasi ini menara masjid semula berada di sisi kanan bangunan utama dipindah ke utara..

Interior Masjid Agung At-taqwa Bondowoso

Tanggal 24 Januari 2007 masjid direnovasi kembali, yang biaya renovasinya berasal dari APBD dan sumbangan masyarakat dan diresmikan oleh bupati Bondowoso Dr. H. Mashoed Msi.

Meskipun masuk dalam katagori masjid tua, tahapan-tahapan renovasi masjid akhirnya telah menyulap masjid ini menjadi bangunan yang tergolong modern. Ornament ketuannya telah terganti dengan fisik yang dimodel dengan variasi yang lebih apik. Namun hal tersebut tidak menghapuskan kesan keagungan dari masjid ini.

Masjid Agung At Taqwa terdiri atas dua lantai. Bangunan pada lantai pertama berupa ruang tertutup yang memiliki 6 saka guru dan 12 saka rawa. Ruang ini merupakan pusat kegiatan jamaah di Masjid Agung At Taqwa.  Sedangkan ruang utama di lantai kedua digunakan apabila ruang utama di lantai pertama tidak mencukupi untuk menampung jamaah, seperti pelaksanaan salat Idul Fitri dan Idul Adha serta kegiatan-kegiatan lain yang mendatangkan ribuan jamaah.***


Saturday, July 8, 2017

Masjid Agung Darussalam Bojonegoro

Masjid Agung Darussalam Bojonegoro dengan menaranya yang unik

Fitur paling menarik perhatian dari Masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini adalah pada bagian menaranya yang dibangun dengan bentuk yang tak biasa dan boleh jadi satu satunya menara masjid di Indonesia dengan rancang bangun seperti menara masjid ini. Menaranya dibangun dengan bentuk spiral, atau seperti di plintir sehingga menghasilkan bentuk menara yang unik.

Masjid Agung  Darussalam Bojonegoro dibangu di sisi barat alun alun Bojonegoro, di ruas jalan KH. Hasyim Asy`ari No. 21. Lokasi berdirinya sesuai dengan tipologi perkotaan tanah Jawa dimana masjid Agung di bangun di sisi barat alun alun berdekatan dengan berbagai gedung instansi pemerintah, DPRD, pendopo, kampus, sekolah hingga Rumah sakit.

Masjid Agung Darussalam Bojonegoro
Jl. Hasyim Asyari, Kauman, Kec. Bojonegoro
Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur 62113
(0353) 775566



Masjid Agung Darussalam Bojonegoro dibangun pertama kali sekitar tahun 1825 di atas tanah wakaf dari Patih Pahal seorang tokoh Laskar perang Pangeran Diponegoro. Pembangunannya dilaksanakan oleh masyarakat setempat bersama laskar Pangeran Diponegoro didukung para pedagang pasar Bojonegoro.

Dari tarikh pembangunannya, masjid ini dibangun pada saat perang Jawa dibawah pimpinan Pangeran Diponegoro dimulai pada tahun 1825, dan memang sangat erat kaitannya dengan laskar pasukan Pangeran Diponegoro, sepanjang tepian Sungai Bengawan Solo ketika itu merupakan jalur satu satunya laskar Diponegoro dalam malaksanakan penyerangan gerilyanya, dan Masjid merupakan titik utama.

Konon pembangunan masjid ini dilakukan sambil perang melawan penjajah di Sepanjang tepi   Bengawan Solo. Pada saat itu bangunan masjid masih sangat sederhana semi permanen, hanya bangunan induk pondasinya batu dan semua bagian bangunannya dari kayu termasuk pilar dan dindingnya.

Perbaikan terhadap bangunan masjid ini dilakukan pada tahun 1925 pada saat usia masjid ini mencapai 100 tahun di masa pemerintahan Bupati Bojonegoro 1916-1936, Kanjeng Soemantri. Masjid dipugar dengan melengkapi serambi depan, Kantor kenaiban (Kantor urusan Agama) dan Madrasatul Ulum sebagai upaya pengkaderan umat islam yang sekarang menjadi MIN I Bojonegoro.

Tahun 1955 dibagunlah sekolah rakyat di halaman samping Masjid Darussalam sekarang menjadi SMP Islam. Renovasi selanjutnya dilakukan tahun 1963 dimasa Bupati H.R. Tamsi Tedjosasmito. Berlanjut di tahun 1983 di masa pemerintahan Bupati Drs. Soeyono dan diresmikan oleh Menteri Agama H. Alam Syah Ratu Perwira Negara.

Tahun 1993 dilaksanakan rehab total pada semua bangunan masjid yang kepanitiaannya langsung ditangani oleh Drs. H. Imam Supardi Bupati KDH TK.II Bojonegoro yang menjabat dua periode tahun 1988-1993 berlanjut tahun 1993-1998 dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur saat itu, H. Bashofi Sudirman.

Tahun 2014 Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengalami pemugaran besar-besaran menggunakan dana APBD sebesar 40 Milyar dimasa Bupati Drs. H. Suyoto, M.Si. Pembangunan pada tahap pertama  yang dilaksanakan mulai bulan April 2014 telah menghabiskan dana sebanyak 25 Milyar.

Fitur menarik lainnya dari masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini adalah hiasan lampu interiornya yang menggunakan begitu banyak kristal.

Pada renovasi tahap pertama ini Masjid Darussalam arsitekturnya kelihatan anggun , elegan dan modern, selanjut asesoris dan ornamennya di lengkapi pada rencana pembangunan tahab ke 2. Renovasi masjid ini tetap melestarikan bangunan lama dengan mempertahankan tetap mempertahankan bangunan induk dan pilar – pilar kayu yang menjulang tinggi karena mengandung nilai historis dan untuk menjaga kelestarian benda wakaf. Bangunan Masjid  berlantai 2 dilengkapi tempat parkir yang luas.

Ruang shalat terdiri dari dua lantai. Lantai  pertama dibagi menjadi 3 wilayah, yakni wilayah mihrab, wilayah liwan pria, dan liwan wanita. Adapun lantai 2 dipakai pula untuk liwan wanita. Tempat wudhu ada dua bagian sebelah kiri masjid tempat wudhu wanita sedangkan sebelah kanan tempat wudhu Pria. Serambi masjid berbentuk persegi panjang

Pemugaran Masjid Agung Darussalam diresmikan Bupati Bojonegoro H. Suyoto, pada hari Jum’at , tanggal 3 juni 2016. Menandai diresmikannya Masjid Agung Darussalam, H. Suyoto menabuh bedhuk dan menanda tangani prasasti peresmian pemugaran Masjid. Acara dilanjutkan dengan tumpengan, sebagai selamatan peresmian. Hadir pada acara tersebut, Wakil Bupati Bojonegoro Setyo Hartono, Kapolres Bojonegoro AKBP Sri Wahyu Bintoro, Ketua MUI Bojonegoro KH. Jauhari Hasan, tokoh masyarakat dan tokoh agama serta para jama’ah Jum’at Masjid Agung Darussalam Bojonegoro.

Perlu diketahui, Masjid agung Darussalam Bojonegoro saat itu direncanakan bakal dipugar dengan dana 40 miliar. Pada tahap awal masjid dibangun dengan memanfaatkan dana APBD 2014 yang dikerjakan oleh PT. Daman Varia Karya dengan anggaran sebasar Rp 24.580.000,00 (dua puluh empat miliar lima ratus delapan puluh juta).

Luas bangunan Masjid Agung Darussalam yang baru sekitar 2.422 meter persegi dan berdiri di atas lahan seluas 3.562 meter persegi. Masjid itu mampu menampung jamaah mencapai 1.100 orang.***