Saturday, March 18, 2017

Masjid Agung Baitunnur Pati, Jawa Tengah

Berdiri megah menghadap ke Alun Alun Kota Pati di Jawa Timur, Masjid Agung Baitunnur ini merupakan salah satu karya arsitek kawakan Prof. Muhammad Nu'man.

Masjid Agung Baitunnur merupakan masjid agung Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Lokasinya beada di sisi barat alun alun di pusat kota Pati, tempat yang lebih dikenal dengan nama Simpang lima. Di sisi utara alun alun kota Pati ini berdiri terdapat Kantor Bupati Pati dan Gedung DPRD Kabupaten Pati. Masjid ini juga dilengkapi dengan Gedung Islamic Center Kabupaten Pati yang berada di bagian belakang masjid, terhubung teras dan kolam yang beralaskan tatanan batu batu kerikil yang memberikan efek refleksi telapak kaki bagi siapa saja yang melaluinya.

Hampir keseluruhan bangunan masjid ini mengkombinasikan dengan apik apik antara marmer putih pada lantai dan dinding bagian depan yang berpadu dengan ornamen kayu berwarna coklat. Masjid Agung Baitunnur ini merupakan salah satu karya dari maestro arsitek Indonesia, Prof. Muhammad Nu’man yang dikenal luas dengan karya karyanya termasuk Masjid Indonesia di Bosnia Herzegovina, Masjid Agung At-Tien, Masjid Islamic Center Jakarta dan masih banyak lainnya.

Masjid Agung Baitunnur Pati
Pati Kidul, Kec. Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah 59114
situs resmi : masjidagungpati.com



Sejarah Masjid Agung Baitunnur Pati

Masjid Agung Baitunnur Pati dibangun pertama kali oleh Raden Adipati Aryo Condro Adinegoro yang bernama asli Raden Bagus Mita. Yang berkuasa tahun 1829-1895 M. Pembangunan Masjid Baitunnur ini dimulai pada tahun 1261 H atau 1845 M sebagaimana dijelaskan dalam prasasti berbentuk kaligrafi milik Masjid Agung Baitunnur Pati yang sekarang berada di Masjid Gambiran. Kaligrafi tersebut berbunyi: “ibtidaa’u binaa’i hadza al-masjid fii sanah 1261 H / 1845 M”. (artinya: Awal Pembangunan Masjid ini adalah pada Tahun 1261 Hijriyah bertepatan dengan Tahun 1845 Masehi)

Dahulu Atap Masjid berundak seperti Masjid Agung Demak dan masjid-masjid kuno di Jawa Tengah yang dibangun oleh para wali, berupa atap limas (seperti piramida) bersusun atau berundak undak yang terdapat di rumah-rumah jawa kuno, bentuk atap seperti itu memang merupakan bentuk khas masjid masjid tua tanah Jawa yang kini sudah menjadi ciri khas arsitektur masjid Nusantara.

Kemudian pada tahun 1289 H / 1969 M atau 124 tahun seteah pembangunannya, masjid Agung Baitunnur Pati direnovasi. Sebagaimana dijelaskan pada Tulisan Arab di sebelah kiri Prasasti Kaligrafi yang sama yang berbunyi tajdiid wa tausii’u hadza al-masjid fii sanah 1389 H / 1969 M” (artinya: renovasi dan perluasan Masjid ini adalah pada Tahun 1389 Hijriyah yang bertepatan dengan Tahun 1969 Masehi), Pada masa itu Kabupaten Pati berada dibawah kekuasaan A.K.B.P. Raden Soehargo Djojolukito (menjabat tahun 1967-1973 M).

Perjalanan metamorfosis Masjid Agung Pati

Bentuk bangunan masjid berubah, atap masjid yang sebelumnya tanpa kubah kemudian memiliki kubah di atasnya. Atap berundak masjid masih dipertahankan. Menara depan masjid yang sebelum renovasi berdiri gagah sudah tidak tampak lagi.

Rancangan Prof. Muhammad Nu’man

Pada tahun 1979 masjid Agung Baitunnur Pati direnovasi untuk kedua kalinya di akhir Jabatan Bupati Kol. Pol. Drs. Edy Rustam Santiko (menjabat Bupati dari Tahun 1973-1979 M). Pembangunan Selesai pada tahun 1980 M yang pada saat itu Bupati Pati dijabat Kol. Inf. Panoedjoe Hidayat. Desain masjid pada renovasi kedua ini dilakukan oleh Nu’man dari ITB Bandung. Desain Masjid Agung Baitunnur Pati berubah total dari desain sebelumnya.

Desain Masjid Agung Pati yang sebelumnya berundak dan berkubah, setelah direnovasi pada 1979 M, atap Masjid tidak lagi berundak dan juga tidak lagi berkubah. Rancangan bangunan Masjid tersebut terkesan desain minimalis dan bertahan sampai sekarang ini. Sebuah menara tunggal kini juga berdiri kokoh dan menjulang disamping bangunan utama masjid.

Interior Masjid Agung Pati, Lain dari pada yang lain.

Mimbar Kuno Masjid Agung Baitunnur

Masjid Agung Baitunnur Pati juga memiliki mimbar unik dan kuno yang berumur sekitar 160 tahun. Mimbar ini adalah hadiyah atau pemberian Raden Adipati Aryo Condro Adinegoro 9 tahun setelah pembangunan Masjid. Di dalam mimbar tersebut terdapat prasasti bertuliskan huruf Arab Pegon.

Bunyi teks pada Prasasti tersebut adalah: “yasa dalem kanjeng raden hadipati harya tjandra adhinegara ing mimbar masjid negari pati punika (wulan) jumadal awwal (tahun) dal (tahun) alfun wa mi´ataini wa sab’una (1270 H) utawi (wulan) januari tahun 1854 M”

(artinya: karya/pemberian Kanjeng Raden Adipati Aryo Condro Adhinegoro berupa mimbar Masjid Negara Pati pada Bulan Jumadil Awwal tahun Dal tahun seribu duaratus tujuh puluh hijriyah (1270 H) bertepatan dengan Bulan Januari tahun 1854 M).

Referensi