Sunday, May 21, 2017

Langgar Agung Pangeran Diponegoro

Langgar Agung Pangeran Diponegoro ini bukanlah bangunan warisan beliau, namun sebuah Langgar yang dibangun di lokasi yang pernah beliau gunakan untuk melaksanakan sholat.

Langgar Agung Pangeran Diponegoro berada di Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Magelang. Hingga sekarang masjid tersebut masih kokoh berdiri dan masih digunakan untuk tempat ibadah umat Muslim warga lereng Menoreh. Terletak di kaki bukit perbukitan Menoreh, Masjid Langgar Agung Pahlawan Nasional Pangeran (PNP) Diponegoro masih kokoh berdiri.

Meskipun menyandang nama Pangeran Diponegoro, bangunan langgar atau Mushola ini bukanlah bangunan yang didirikan oleh Pangeran Diponegoro. Pembangunannya sendiri baru dilaksanakan tahun 1950 hingga tahun 1972, oleh warga muslim setempat dan dilanjutkan oleh TNI (saat itu masih disebut dengan ABRI).

Meskipun menyandang nama Pangeran Diponegoro, bangunan langgar atau Mushola ini bukanlah bangunan yang didirikan oleh Pangeran Diponegoro. Pembangunannya sendiri baru dilaksanakan tahun 1950 hingga tahun 1972, oleh warga muslim setempat dan dilanjutkan oleh TNI (saat itu masih disebut dengan ABRI). Langgar Agung PNP Diponegoro ini kini berada di dalam lingkungan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pangeran Diponegoro Salaman dan Pondok Pesantren Nurul Falah Salaman.

Langgar Agung Pangeran Diponegoro
Desa Menoreh, Kecamatan Salaman
Kab. Magelang, Jawa Tengah



Dari tempat petilasan ini oleh penduduk sekitar dibangunlah langgar atau mushola pada tahun 1950. Atas prakarsa Jenderal Sarwo Edi Wibowo, pada paruh kedua tahun 1960-an dimulai pembuatan pondasi masjid dan bagian mihrab-nya berada di atas tatanan batu yang didirikan oleh pasukan Pangeran Diponegoro itu. Bangunan pun diperluas menjadi delapan-kali-delapan belas meter dan rancangannya ditangani oleh seorang arsitek keturunan Belanda beragama Islam.

Pembangunan masjid selesai dan diresmikan pada tanggal 8 Januari 1972 oleh gubernur Jawa Tengah, Mayjen Munadi, bersama sama dengan Gubernur AKABRI Mayjen Sarwo Edi Wibowo, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Magelang Drs. Ahmad, serta tokoh mayarakat Manoreh, Muhammad Kholil. Bertindak sebagai Juru Pelihara pertama Langgar ini adalah H. Fathoni dan A. Nurshodiq.

Arsitektur masjid pun dominan bergaya Belanda karena memang dibangun oleh Arsitek keturunan Belanda, bahkan sepintas lalu masjid ini pun lebih mirip dengan bangunan gereja. Bangunannya dilengkapi dengan enam kubah, terdiri dari satu kubah utama berukuran paling besar di atap ruang utama masjid dikelilingi oleh empat kubah berukuran lebih kecil masing masing ditempatkan di atas menara pendek.

Satu kubah lagi ditempatkan di ujung bangunan menara yang dibangun diatas menjulang diatas bagian serambi. Gaya yang cukup unik untuk sebuah mushola, denah bangunan seperti ini memang lebih mirip denah sebuah Gereja. Pola yang serupa juga akan anda temukan pada Masjid Cipari di Garut, Jawa Barat yang dibangun tahun 1895 persis seperti sebuah Gereja.

Mirip struktur bangunan gereja, karena memang dibangun oleh arsistek keturunan Belanda yang sudah masuk Islam.

Langgar Agung Pangeran Diponegoro ini tidak termasuk dalam bangunan Cagar Budaya karena tidak terdapat bukti sejarah tertulis yang mendukung. Bukti tulisan yang tercatat hanya pada pasca rehabilitasi mulai pada tahun 1972 saja bukan saat digunakan Pangeran Diponegoro.

Al-Qur’an Kuno Tulisan Tangan

Berseberangan dengan Langgar Agung terdapat sebuah pesantren yang menyimpan satu Mushaf Al-Quran kuno. Mushaf Al-Qur’an tersebut konon merupakan hasil tulisan tangan Mbah Abdul Aziz yang dikenal sebagai salah satu pengikut setia Pangeran  Diponegoro.  Mushaf Alquran tersebut berukuran tebal sekitar 12 sentimeter, terdiri dari  400 halaman dan beratnya sekitar 1,5 kilogram. Sampulnya terbuat dari bahan kulit hewan, kemungkinan dari kulit kerbau atau sapi. Namun, kondisi bagian sampulnya sudah patah dan disambung dengan perekat.  

Alquran itu ditulis oleh Mbah Abdul Aziz sebelum masa perjuangan Diponegoro pada 1825-1830. Alquran itu ditulis menggunakan lidi aren. Meski usianya sudah ratusan tahun, namun tulisan dari tinta hitam masih terlihat jelas. Hanya saja, kertasnya sudah ada yang robek di beberapa bagian. pada bagian awal lembaran Alquran peninggalan era Diponegoro tersebut ada hiasan bercorak batik warna-warni. Makam Mbah Abdul Aziz, penulis mushaf Alquran ini berada di Soroniten, Kalikajar, kabupaten Wonosobo. Di sana juga ada masjid peninggalan beliau yang sempat hancur. Namun kini sudah direnovasi.

Selain di kota Magelang, bangunan masjid yang berhubungan dengan Pangeran Diponegoro juga terdapat di kabupaten Magetan. Masjid tersebut dibangun oleh KH. Abdurrahmanm yang merupakan salah seorang pengikut Pangeran Diponegore, setelah berahirnya Perang Jawa. Lokasi Masjid tersebut berada di dusun Tegalrejo, Desa Semen, Kecamatan Nguntoronadi kabupaten Magetan, Jawa Timur.***

Referensi