Sunday, July 23, 2017

Masjid Al-Ra'iyah DPRD Sumsel

Masjid Al-Ra'iyah DPRD Smsel

Masjid Al-Ra’iyah adalah masjid megah di komplek perkantoran DPRD provinsi Sumatera Selatan di kota Palembang. Masjid ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan muslim di kawasan perkantoran tersebut dan sekitarnya. Secara harfiah “Al-Ra’iyah” yang menjadi nama masjid ini berarti “Rakyat”, nama yang pas untuk masjid yang berdiri dan dibangun di komplek para wakil rakyat.

Selama ini karena belum adanya masjid, pelaksanaan sholat Jum’at di komplek DPRD Sumsel ini dilakukan di mushola DPRD yang berada di lantai dasar gedung DPRD Sumsel. Dengan selesainya pembangunan masjid ini, pelaksanaan sholat jum’at dan aktivitas ke-Islaman dipusatkan di masjid ini, tidak saja bagi anggota dewan, staf dan pegawainya namun juga bagi masyarakat muslim di sekitarnya.

Masjid Al-Ra 'iyah DPRD Sumsel
Jalan POM 9 Kampus, Kelurahan Lorok Pakjo
Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang
Sumatera Selatan 30137



Pembangunan masjid ini dilaksanakan sejak tahun 2013 ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Sumsel H Alex Noerdin dan Ketua DPRD Provinsi Sumsel (2009-2014) Ir Wasista Bambang Utoyo didampingi pejabat DPRD Provinsi Sumsel sebagai simbolis dimulainya pembangunan masjid tersebut.

Pembangunan masjid ini atas prakarsa dari pimpinan DPRD Sumsel periode 2009-2014 dan dirancang oleh arsitek Kasmidi Jaya. Dana pembangunannya bersumber dari dana APBD 2013/2014, pelaksanaannya dilakukan dua tahap, tahap pertama menghabiskan dana Rp 3,2 milyar dan tahap kedua Rp 3,8 milyar sehingga total dana yang digunakan sebesar Rp 7 Milyar.

Peresmian Masjid Al-Ra’iyah dilaksanakan pada hari Jum’at 6 Februari 2015 yang lalu oleh Gubernur Sumatera Selatan, H. Alex Nurdin ditandai dengan pemotongan pita bersama sama dengan para pimpinan lembaga pemerintah provinsi Sumatera Selatan, dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti oleh H. Alex Nurdin serta penyelenggaraan sholat Jum’at untuk pertama kalinya di masjid tersebut.

Masjid Al-Ra'iyah DPRD Smsel

Turut hadir dalam acara peresmian tersebut diantaranya Ketua DPRD Sumsel, HM Giri Ramanda N Kiemas, Pangdam II Sriwijaya, Mayjen TNI Iskandar M Syahril dan Kapolda Sumsel Iza Fadri, Plt Walikota Palembang Harnojoyo, para anggota DPRD Sumsel, tokoh Agama Sumsel, serta sekitar 300 lebih undangan.

Gubernur Sumsel H Alex Noerdin dalam sambutannya mengatakan bahwa masjid Al-Ra’iyah ini terlalu besar bila hanya digunakan untuk jajaran DPRD Sumsel saja, karenanya beliau menyarankan kepada pengelola masjid agar dapat membuka pintu yang langsung berhadapan dengan jalan agar dapat memudahkan masyarakat yang ingin menggunakan masjid ini dengan mengutamakan juga keamanan.

Referensi




Saturday, July 22, 2017

Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak

Masjid Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak.

Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak merupakan bangunan tua bersejarah yang berada disisi timur Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak, sementara kebanyakan peziarah masuk lewat selatan maka masjid ini mungkin seringkali terlewati. Akses masuk ke dalam Masjid bisa melalui lorong samping yang menuju ke Makam Sunan Kalijaga, atau lewat depan dengan menaiki sejumlah undakan.

Jika peziarah datang dari sisi timur ini, mereka bisa berwudlu di masjid, shalat sunat di sana, baru kemudian pergi berziarah ke makam dan sudah dalam keadaan suci. Masjid ini terlihat lebih kecil dibanding Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dan Masjid Agung Demak, dua masjid dimana Sunan Kalijaga ikut terlibat dalam pembangunannya.

Masjid Sunan Kalijaga
Desa Kadilangu, Kecamatan Demak Kota
Kabupaten Demak



Masjid Sunan Kalijaga di Kadilangu ini pada awalnya memang dibangun dimasa Sunan Kalijaga masih hidup sekitar tahun 1532, kala itu masih berupa Surau kecil. Setelah Sunan Kalijaga wafat dan digantikan oleh puteranya yang bernama Sunan Hadi (putera ketiga), surau tersebut disempurnakan bangunannya hingga berupa masjid seperti terlihat sekarang ini.

Pembangunan oleh Sunan Hadi dilakukan pada tahun 1534H sebagaimana disebutkan di sebuah prasasti yang terdapat di atas pintu masjid sebelah dalam yang berbunyi : "Meniko titi mongso ngadekipun masjid ngadilangu hing dino Ahad Wage tanggal 16 sasi dzul-hijjah tahun tarikh jawi 1456, (ini waktunya berdiri Masjid Kadilangu pada hari Ahad Wage tanggal 16 bulan Dzul-hijjah tahun tarikh Jawa 1456).

Masjid Kadilangu ini sudah beberapa kali mengalami perbaikan di beberapa bagian, sehingga banyak bagian bangunannya yang sudah tidak asli, terutama bagian luarnya. Selain tergolong masjid tua, masjid ini memiliki keunikan yang lain yakni mustaka yang atapnya mirip dengan berbagai masjid lama seperti Masjid Agung Demak, Masjid Agung Kauman Semarang serta banyak lagi, atap limasan itu bersusun dua. Di kubah terpasang pengeras suara yang difungsikan untuk mengumandangkan azan agar terdengar hingga ke pelosok daerah.

Interior Masjid Sunan Kalijaga

Di bagian serambi masjid terdapat dua buah beduk yang berfungsi sebagai penanda masuk waktu shalat. Dari dua beduk itu salah satunya yang berada di sebelah kiri masjid merupakan peninggalan Sunan Kalijaga. Bedug bersejarah itu hingga saat ini masih kuat dan terlihat kokoh. Di ruangan utama masjid terdapat empat saka guru atau tiang masjid yang semuanya masih asli dan terbuat dari kayu jati. Begitu pula pintu dan jendela masjid masih utuh dari kayu jati belum diganti.

Empat sokoguru penyangga atap berwarna kuning bergaris hitam di sudutnya, polos tanpa ornamen. Hanya bagian pengimaman yang terlihat cukup menarik dengan ornamen suluran yang anggun. Ruang utama Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu terlihat relatif sederhana, dengan, mimbar kayu jati dengan ukiran cantik, dan sejumlah lampu gantung.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Jauharotun Nafis diketahui bahwa arah kiblat masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak diketahui kemelencengannya sebesar 8,42 derajat. Tetapi respon tamir terhadap kemelencengan arah kiblat masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak kurang, karena menurut pandangan tamir masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak bahwa ijtihad Sunan Kalijaga dalam menetapkan arah kiblat tidaklah sembarangan, yakni menggunakan laku spiritual yang pasti tepat dan harus diikuti tanpa ada keraguan. Wallahu a’lam bishshowwab.***


Sunday, July 16, 2017

Masjid Cipto Mulyo Boyolali, Masjid Peninggalan PB X

Masjid Cipto Mulyo Boyolali, denah bangunan masjid ini miring sangat jauh dari arah kiblat, pengurus masjid terpaksa memiringkan sajadah di dalam masjid ini tanpa mengubah arah bangunannya.

Masjid Cipto Mulyo yang terletak di Kecamatan Pengging, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada awalnya hanyalah masjid untuk kerabat raja Keraton Surakarta. Masjid dengan desain limasan ini dulu menjadi tempat jujugan dari kerabat keraton seusai melakukan peristirahatan dengan siraman (mandi) di Umbul Pengging.

Masjid kuno ini berdiri pada tahun 1838 dan terletak di komplek kawasan wisata Umbul Pengging. Di tempat ini tak hanya ada masjid kuno peninggalan raja Keraton Surakata, Pakubuwono (PB) X, tetapi ada juga tempat khusus pemandian kerabat raja, yaitu Umbul Pengging dan Umbul Sungsang, juga pesanggrahan.

Masjid Cipto Mulyo
Ngaliyan, Banyudono, Bendan, Boyolali
Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah 57373


Di belakang masjid terdapat makam pujangga Jawa kuno, Yosodipuro dan Ronggowarsito. masjid ini terbilang cukup unik. Salah satunya terlihat dari namanya yang menggunakan bahasa Jawa, tidak seperti masjid lainnya yang menggunakan bahasa Arab. Cipto Mulyo sendiri memiliki arti menciptakan kemuliaan di dunia dan akhirat.

Dilihat dari bangunannya pun terasa kuno yang merupakan perpaduan bagunan nuansa Jawa. Di mana desain masjid ini adalah limasan, menyerupai pendopo. Untuk pilar-pilarnya pun masih menggunakan kayu jati dengan warna krem. Meskipun, umurnya hampir satu abad, masjid ini masih terlihat kokoh dan gagah, berada di tengah-tengah lokasi sumber mata air.

Beberapa kali sudah dilakukan renovasi, tetapi hanya bagian atap dan lantai saja. Kalau untuk bagian dalamnya, termasuk tiangnya yang berasal dari kayu jati, sama sekali belum pernah dilakukan renovasi.

Dekorasi dari masjid dengan lima pintu utama ini masih terasa kekunoannya, seperti keberadaan lampu Jawa klasik. Ditambah ukiran-ukiran yang berada di atas tiap pintu dan jendela dengan sisipan tulisan PB X yang menandakan bahwa pembangunan masjid itu terjadi pada masa pemerintahan PB X.

Interior Masjid Cipto Mulyo Boyolali, perhatikan arah sajadahnya yang miring cukup jauh terhadap arah bangunan masjidnya.
Uniknya lagi, di bagian atas gerbang serambi terdapatnya tulisan aksara Jawa kuno. Aksara Jawa tersebut bertuliskan Adegipun Masjid Cipto Mulyo, Selasa Pon, Kaping 24 Jumadilakhir 1838. Selain itu, juga terdapat bedug dan kentongan yang diletakkan di sisi kanan serambi masjid.

Arah Kiblat Masjid Miring 45 Derajat

Sedangkan di tengah-tengah serambi terdapat arah mata angin, sebagai petunjuk arah kiblat. Ini sangat menarik, karena bangunan masjid ini miring sekitar 45 derajat ke utara dari arah kiblat sehingga shaf pun dibuat miring sesuai arah kiblat. Dan jarum arah kiblat itu dipasang oleh Departemen Agama Wilayah Jawa Tengah.

Kendati secara fisik mengalami renovasi berulang kali, namun perubahan bangunan masjid untuk mengarah ke tepat kilbat tidak dilakukan. "Arah bangunan ini dibiarkan saja, namun shaf tetap mengarah ke kiblat. Lagipula pihak kraton menginstruksikan untuk tidak mengubah bangunan masjid.

Adanya kesalahan kemiringan kiblat dari bangunan itu, diperkirakan yang menjadi arsitektur bangunan Masjid Cipto Mulyo ini merupakan orang Belanda pada waktu itu. Mungkin saja begitu alasannya, sehingga kiblat masjid itu miring 45 derajat.

Referensi


Saturday, July 15, 2017

Masjid Agung Baitunnur Blora

Masjid Agung Baitunnur Blora, bagian bangunan masjid asli sejak masa kesultanan Mataram adalah bangunan yang berada di bagian belakang.

Masyarakat Kabupaten Blora tentu saja tak asing dengan Masjid Agung Baitunnur. Masjid yang merupakan Masjid Agung ini, berada di jantung kota Blora sekaligus merupakan masjid terbesar dan tertua di kabupaten Blora. Masjid Agung ini telah berdiri sejak masa Kesultanan mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung antara tahun 1613-1645 mengutus pangeran Pojok untuk ke Tuban, dari perjalanan pangeran pojok inilah awal berdirinya masjid Baitunnur.

Masjid Baitunnur ini dulunya dikenal dengan nama masjid Doro Ndekem atau dalam bahasa Indonesia artinya adalah Merpati duduk. Disebut demikian karena saat berdirinya masjid ini letak tanahnya lebih rendah dibandingkan dengan alun alun kota  sehingga tampak seperti burung merpati yang sedang duduk (Doro Ndekem).

Masjid Agung Baitunnur Blora
Jl. Alun-alun Barat No.1, Kauman, Kec. Blora Kota
Kabupaten Blora, Jawa Tengah 58213



Masjid Agung Baitunnur dibangun pada tahun 1722 dan pelaksanaan pemugaran pertama dilakukan oleh Bupati R.T. Djajeng Tirtonoto pada tahun 1774 dengan Surya Cengkala “Catur Pandhita Sabdaning Ratu”. Pada tahun 1968 dan 1975 dipugar oleh Bupati Supadi Yudhodarmo dengan tambahan bangunan menara. Pada mimbar terdapat angka tahun dengan huruf Arab dan Jawa, dan terbaca 1718.

Masjid Baitunnur berada di Kelurahan Kauman, Kecamatan Blora, lokasinya berdiri di jantung Kota Blora bersebelahan dengan Alun-alun Kota Blora. Kompleks masjid ini terdiri atas bangunan induk dan bangunan serambi. Bangunan induk beratap susun tiga. Pada bagian puncaknya dihias dengan mustoko dari logam. Komponen artefak kuno yang ada di masjid dan serambi masjid ini antara lain mimbar dari kayu berukir, maksurah, dan 2 buah bedug. Selain itu terdapat prasasti berhuruf Jawa di atas pintu masuk ke ruang utama dan angka tahun 1892 di daun pintu. Pada pintu selatan terdapat angka tahun 1822 dan pintu sebelah utara 1310 H.

Tidak jauh dari Masjid Agung Blora, terdapat makam Sunan Pojok yang dianggap sebagai pendiri masjid ini. Sedangkan makam Sunan Pojok yang ada di Makam Gedong Blora, Jl. Mr. Iskandar 1/1 Blora, atau sebelah selatan Alun-alun Blora, merupakan makam pindahan yang dilakukan oleh R.T. Djojodipo, putra Sunan Pojok Blora.

Interior Ruang Utama (bangunan asli) dari Masjid Agung Baitunnur Blora.

Saat ini masjid Agung Blora memiliki luas kurang lebih 2000 meter persegi, sudah masuk daftar cagar budaya dan merupakan aset sejarah nasional, bersama dengan lima masjid tertua di Jawa Tengah lainnnya. Karena-nya keaslian masjid ini sampai saat ini masih terjaga. Seperti ruang atas masjid yang dulu digunakan sebagai tempat penyimpanan pusaka serta bersemedi masih tetap terpelihara rapi.

Revitalisasi Masjid Agung Baitunnur Blora

Di tahun  2016 yang lalu pemerintah kabupaten Blora menyelenggarakan sayembara design renovasi Masjid Agung Baitunnur Blora sebagai bagian dari upaya revitalisasi Masjid bersejarah tersebut. Renovasi yang direncanakan tanpa menganggu gugat bangunan asli dari Masjid Agung Baitunnur yang akan tetap dijaga ke-asliannya dan dijadikan bangunan utama masjid.

Renovasi dilakukan terhadap bangunan tambahan yang ada di sekitar di bangunan asli termasuk membangun ulang bangunan masjid tambahan di sisi timur bangunan asli menjadi bangunan dua lantai berarsitektur modern yang kemudian di hubungkan langsung ke bangunan utama, membangun fasilitas parkir dan gedung lainnya di sisi barat bangunan utama. Seluruh proses tersebut direncanakan akan dimulai tahun 2018 nanti.***

Referensi

Tabloid infoku edisi 15-7 s/d 22 Agustus 2011


Sunday, July 9, 2017

Masjid Agung At-Taqwa Bondowoso

Masjid Agung At-Taqwa Bondowoso dengan perpaduan dua seni arsitektur, modern dan tradisional.

Masjid Agung At-Taqwa Bondowoso pertama kali dibangun pada tahun 1809, berdiri di atas lahan seluas 5000 meter persegi dengan luas bangunan 2000 meter persegi dan mampu menampung hingga 6000 jema’ah sekaligus. Pembangunan masjid ini berawal ketika Raden Bagus Assra diangkat sebagai patih berdiri sendiri (zelfstanding) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro. Beliau dipandang sebagai pendiri sekaligus penguasa pemerintahan pertama di Bondowoso yang membangun sebuah missigit (masjid) yang kini dikenal sebagai Masjid Agung At-Taqwa

Masjid Agung At-Taqwa Bondowoso
Jl. Letnan Sutarman No. 08 Bondowoso
Kec. Bondowoso, Kabupaten Bondowoso
Jawa Timur 68219



Pada awal pembangunan, masjid ini hanya sebuah surau dengan bangunan yang sederhana. Dinding bangunan masjid masa itu terbuat dari bambu dan atap dari bahan rumbia. Pada tahun  1819, saat  Raden Bagus Assra  diangkat menjadi Ronggo Bondowoso dengan julukan Kyai Ronggo Bondowoso masjid tersebut di sempurnakan dengan menambah pagar bagian depan dan pintu masuk yang di atasnya dilengkapi dengan sebuah beduk besar yang ditabuh setiap menjelang sholat lima waktu. Untuk menuju ke tempat beduk tersebut harus melewati beberapa anak tangga yang terbuat dari batubata. Tangga inilah yang membuat pintu pagar masjid nampak indah dan kokoh.

Dalam perkembangannya  masjid  ini bernama masjid Jami’ At Taqwa Bondowoso, dan dalam perkembangannya masjid jami’ berubah nama menjadi Masjid Agung At Taqwa Bondowoso sebagai masjid kebanggaan warga Bondowoso. Pada tahun 1967 Masjid Jami’ At Taqwa mulai direnovasi, pintu pagar yang menjadi ciri khas masjid ini dibongkar dan diganti dengan pagar besi. Pada saat renovasi inilah untuk pertama kalinya Masjid Jami’ At Taqwa membangun sebuah menara di sebelah selatan bangunan utama yang digunakan untuk menempatkan pengeras suara

Kemudian pemugaran dilakukan lagi tahun 1971 dan diresmikan pada tanggal 12 April 1971 oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud Saat Bupati Bondowoso dijabat oleh R. Arifin Djauharman (1965-1973). Renovasi selanjutnya tahun 1995 pada masa Bupati Bondowoso dijabat oleh Haji Agus Sarosa ( menjabat tahun 1988 – 1998). Dalam renovasi ini menara masjid semula berada di sisi kanan bangunan utama dipindah ke utara..

Interior Masjid Agung At-taqwa Bondowoso

Tanggal 24 Januari 2007 masjid direnovasi kembali, yang biaya renovasinya berasal dari APBD dan sumbangan masyarakat dan diresmikan oleh bupati Bondowoso Dr. H. Mashoed Msi.

Meskipun masuk dalam katagori masjid tua, tahapan-tahapan renovasi masjid akhirnya telah menyulap masjid ini menjadi bangunan yang tergolong modern. Ornament ketuannya telah terganti dengan fisik yang dimodel dengan variasi yang lebih apik. Namun hal tersebut tidak menghapuskan kesan keagungan dari masjid ini.

Masjid Agung At Taqwa terdiri atas dua lantai. Bangunan pada lantai pertama berupa ruang tertutup yang memiliki 6 saka guru dan 12 saka rawa. Ruang ini merupakan pusat kegiatan jamaah di Masjid Agung At Taqwa.  Sedangkan ruang utama di lantai kedua digunakan apabila ruang utama di lantai pertama tidak mencukupi untuk menampung jamaah, seperti pelaksanaan salat Idul Fitri dan Idul Adha serta kegiatan-kegiatan lain yang mendatangkan ribuan jamaah.***


Saturday, July 8, 2017

Masjid Agung Darussalam Bojonegoro

Masjid Agung Darussalam Bojonegoro dengan menaranya yang unik

Fitur paling menarik perhatian dari Masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini adalah pada bagian menaranya yang dibangun dengan bentuk yang tak biasa dan boleh jadi satu satunya menara masjid di Indonesia dengan rancang bangun seperti menara masjid ini. Menaranya dibangun dengan bentuk spiral, atau seperti di plintir sehingga menghasilkan bentuk menara yang unik.

Masjid Agung  Darussalam Bojonegoro dibangu di sisi barat alun alun Bojonegoro, di ruas jalan KH. Hasyim Asy`ari No. 21. Lokasi berdirinya sesuai dengan tipologi perkotaan tanah Jawa dimana masjid Agung di bangun di sisi barat alun alun berdekatan dengan berbagai gedung instansi pemerintah, DPRD, pendopo, kampus, sekolah hingga Rumah sakit.

Masjid Agung Darussalam Bojonegoro
Jl. Hasyim Asyari, Kauman, Kec. Bojonegoro
Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur 62113
(0353) 775566



Masjid Agung Darussalam Bojonegoro dibangun pertama kali sekitar tahun 1825 di atas tanah wakaf dari Patih Pahal seorang tokoh Laskar perang Pangeran Diponegoro. Pembangunannya dilaksanakan oleh masyarakat setempat bersama laskar Pangeran Diponegoro didukung para pedagang pasar Bojonegoro.

Dari tarikh pembangunannya, masjid ini dibangun pada saat perang Jawa dibawah pimpinan Pangeran Diponegoro dimulai pada tahun 1825, dan memang sangat erat kaitannya dengan laskar pasukan Pangeran Diponegoro, sepanjang tepian Sungai Bengawan Solo ketika itu merupakan jalur satu satunya laskar Diponegoro dalam malaksanakan penyerangan gerilyanya, dan Masjid merupakan titik utama.

Konon pembangunan masjid ini dilakukan sambil perang melawan penjajah di Sepanjang tepi   Bengawan Solo. Pada saat itu bangunan masjid masih sangat sederhana semi permanen, hanya bangunan induk pondasinya batu dan semua bagian bangunannya dari kayu termasuk pilar dan dindingnya.

Perbaikan terhadap bangunan masjid ini dilakukan pada tahun 1925 pada saat usia masjid ini mencapai 100 tahun di masa pemerintahan Bupati Bojonegoro 1916-1936, Kanjeng Soemantri. Masjid dipugar dengan melengkapi serambi depan, Kantor kenaiban (Kantor urusan Agama) dan Madrasatul Ulum sebagai upaya pengkaderan umat islam yang sekarang menjadi MIN I Bojonegoro.

Tahun 1955 dibagunlah sekolah rakyat di halaman samping Masjid Darussalam sekarang menjadi SMP Islam. Renovasi selanjutnya dilakukan tahun 1963 dimasa Bupati H.R. Tamsi Tedjosasmito. Berlanjut di tahun 1983 di masa pemerintahan Bupati Drs. Soeyono dan diresmikan oleh Menteri Agama H. Alam Syah Ratu Perwira Negara.

Tahun 1993 dilaksanakan rehab total pada semua bangunan masjid yang kepanitiaannya langsung ditangani oleh Drs. H. Imam Supardi Bupati KDH TK.II Bojonegoro yang menjabat dua periode tahun 1988-1993 berlanjut tahun 1993-1998 dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur saat itu, H. Bashofi Sudirman.

Tahun 2014 Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengalami pemugaran besar-besaran menggunakan dana APBD sebesar 40 Milyar dimasa Bupati Drs. H. Suyoto, M.Si. Pembangunan pada tahap pertama  yang dilaksanakan mulai bulan April 2014 telah menghabiskan dana sebanyak 25 Milyar.

Fitur menarik lainnya dari masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini adalah hiasan lampu interiornya yang menggunakan begitu banyak kristal.

Pada renovasi tahap pertama ini Masjid Darussalam arsitekturnya kelihatan anggun , elegan dan modern, selanjut asesoris dan ornamennya di lengkapi pada rencana pembangunan tahab ke 2. Renovasi masjid ini tetap melestarikan bangunan lama dengan mempertahankan tetap mempertahankan bangunan induk dan pilar – pilar kayu yang menjulang tinggi karena mengandung nilai historis dan untuk menjaga kelestarian benda wakaf. Bangunan Masjid  berlantai 2 dilengkapi tempat parkir yang luas.

Ruang shalat terdiri dari dua lantai. Lantai  pertama dibagi menjadi 3 wilayah, yakni wilayah mihrab, wilayah liwan pria, dan liwan wanita. Adapun lantai 2 dipakai pula untuk liwan wanita. Tempat wudhu ada dua bagian sebelah kiri masjid tempat wudhu wanita sedangkan sebelah kanan tempat wudhu Pria. Serambi masjid berbentuk persegi panjang

Pemugaran Masjid Agung Darussalam diresmikan Bupati Bojonegoro H. Suyoto, pada hari Jum’at , tanggal 3 juni 2016. Menandai diresmikannya Masjid Agung Darussalam, H. Suyoto menabuh bedhuk dan menanda tangani prasasti peresmian pemugaran Masjid. Acara dilanjutkan dengan tumpengan, sebagai selamatan peresmian. Hadir pada acara tersebut, Wakil Bupati Bojonegoro Setyo Hartono, Kapolres Bojonegoro AKBP Sri Wahyu Bintoro, Ketua MUI Bojonegoro KH. Jauhari Hasan, tokoh masyarakat dan tokoh agama serta para jama’ah Jum’at Masjid Agung Darussalam Bojonegoro.

Perlu diketahui, Masjid agung Darussalam Bojonegoro saat itu direncanakan bakal dipugar dengan dana 40 miliar. Pada tahap awal masjid dibangun dengan memanfaatkan dana APBD 2014 yang dikerjakan oleh PT. Daman Varia Karya dengan anggaran sebasar Rp 24.580.000,00 (dua puluh empat miliar lima ratus delapan puluh juta).

Luas bangunan Masjid Agung Darussalam yang baru sekitar 2.422 meter persegi dan berdiri di atas lahan seluas 3.562 meter persegi. Masjid itu mampu menampung jamaah mencapai 1.100 orang.***

Sunday, July 2, 2017

Masjid Agung Baitul Hakim Kota Madiun

Masjid Agung Baitul Hakim kota Madiun, megah dan meriah dengan balutan warna biru

Masjid Agung Baitul Hakim kota Madiun merupakan salah satu masjid tua bersejarah di kota Madiun sejak wilayah kota ini masih merupakan ibukota dari kabupaten Madiun, meski pastinya sulit bagi siapapun untuk menemukan ketuaan dari bangunan masjid agung megah yang berdiri di sisi barat alun alun Madiun ini.

Namun bila masuk ke dalam masjid hingga ke area sholat utama tempat terdapat mihrab dan mimbar, anda baru akan menemukan ruangan utama masjid ini yang merupakan area inti dan merupakan bangunan asli sejak pertama kali masjid ini dibangun. Setelah melewati beberapa renovasi dan pembangunan kini Masjid Agung Baitul Hakim Madiun tampil menawan dengan sentuhan modern tanpa merusak bangunan aslinya yang dijaga utuh di sisi barat bangunan megah ini.

Masjid Agung Baitul Hakim Madiun
Jl. Aloon-Aloon Barat No.12, Kel. Pangongangan
Kota Madiun, Jawa Timur 63121



Masjid Agung Baitul Hakim ( atau disebut Masjid Agung Madiun ) ialah Masjid terbesar di Kota Madiun. Ciri yang mudah dilihat adalah dominasi warna biru pada masjidnya dan 5 kubah besar (satu ditengah yang paling besar di bagian depannya ada 3 kubah lebih kecil dan disebelah selatannya ada 1 kubah ) serta menara tinggi menjulang di setiap sudut bangunan masjid serta satu menara besar yang tingginya sekitar 25 meter ada di sebelah utara pintu gerbang masuk masjid.

Masjid Agung Baitul Hakim Kota Madiun diperkirakan dibangun pada zaman kolonial Belanda pada saat di pimpin oleh Ronggo Jumeno yaitu sekitar tahun 1830 an masehi. Akan tetapi renovasi secara besar itu di mulai pada tahun 2002. Pada tahun 2011 renovasi terakhir dilakukan dengan menambah luas serambi masjid membangun kubah dan menara hingga seperti saat ini.

Interior ruang utama Masjid Agung Baitul Hakim 

Masjid Baitul Hakim dibangun dengan memadupadankan seni arsitektur Jawa, Timur Tengah, dan Eropa. Arsitektur Jawa masih kental terlihat pada bangunan utama dengan bentuk atap limasan atau joglo. Ruang ini terdapat pilar berjumlah 16 pilar yang terbuat dari kayu jati alas asli dan semuanya utuh. 

Pilar-pilar ini sangat unik karena semuanya tidak tegak lurus namun miring sebesar 5-8 derajat. Pilar-pilar ini miring sudah sejak awal pertama kali masjid ini dibangun. Sedangkan bangunan barunya menggunakan langgam bangunan masjid modern. 

Pada bulan Ramadhan, masjid ini sering mengadakan berbuka puasa, dan ceramah. Selain itu, juga mengadakan shalat Malam berjamaah pada 10 malam terakhir, dan dilaksanakan pada malam tanggal ganjil.***


Saturday, July 1, 2017

Masjid Agung Baitussalam Nganjuk

Masjid Agung Baitussalam Nganjuk tempak megah dari arah gapura

Masjid Agung Baitussalam Nganjuk merupakan masjid terbesar di kabupaten Nganjuk, sesuai dengan fungsinya masjid Agung Baitussalam dibangun dipusat pemerintahan kabupaten, lokasinya berdiri berada di sisi barat alun alun Nganjuk, berseberangan dengan Pendopo Kabupaten Nganjuk yang berada di sisi sebelah timur alun alun.

Uniknya, Masjid Agung Baitussalam kabupaten Nganjuk ini lokasinya bersebelahan dengan Rumah Tahanan Negara (Rutan) atau Penjara yang berada disebelah utara bangunan Masjid Agung. sehingga dari sudut tertentu anda dapat melihat menara dan atap masjid ini bersebelahan dengan menara pengawas penjara yang bentuknya senada.

Masjid Agung Baitussalam Kabupaten Nganjuk
Jl. Supriyadi, Kauman, Kec. Nganjuk
Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur 64411



Masjid Agung Baitussalam Nganjuk dibangun dua lantai dengan tetap mempertahankan langgam bangunan masjid Tradisional Khas Indonesia dengan atap limas atau atap tumpangnya yang bersusun tiga pada atap utama bangunan masjid. meski demikian di dalam masjid ini sudah tidak ditemui empat sokoguru melainkan ada berjejer soko dari beton segi empat penopang struktur atap dan lantai dua bangunan. Bangunan masjid ini juga dilengkapi dengan satu menara yang terpisah dari bangunan utama.

Di bagian dalam bangunan dirancang minimalis, sepi dari berbagai macam ornamen dan hiasan. Fitur yang paling menarik perhatian mata di dalam ruangan masjid ini adalah Mimbar kayunya yang tampak sudah cukup tua serta bagian mihrabnya yang menggunakan ukiran gobyok kayu jati yang tampak begitu indah.

Sekilas tentang Kabupaten Nganjuk

Kabupaten Nganjuk adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro di utara, Kabupaten Jombang di timur, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Ponorogo di selatan, serta Kabupaten Madiun di barat. Pada zaman Kerajaan Medang, Nganjuk dikenal dengan nama Anjuk Ladang yaitu Tanah kemenangan. Nganjuk juga dikenal dengan julukan Kota Angin,

Mihrab dan Mimbar Masjid Agung Baitussalam Nganjuk

Berdasarkan peta Jawa Tengah dan Jawa Timur pada permulaan tahun 1811 yang terdapat dalam buku tulisan Peter Carey yang berjudul : ”Orang Jawa dan masyarakat Cina (1755-1825)”, penerbit Pustaka Azet, Jakarta, 1986; diperoleh gambaran yang agak jelas tentang daerah Nganjuk. Apabila dicermati peta tersebut ternyata daerah Nganjuk terbagi dalam 4 daerah yaitu Berbek, Godean, Nganjuk dan Kertosono merupakan daerah yang dikuasai Belanda dan kasultanan Yogyakarta, sedangkan daerah Nganjuk merupakan mancanegara kasunanan Surakarta.

Sejak adanya Perjanjian Sepreh 1830, atau tepatnya tanggal 4 Juli 1830, maka semua kabupaten di Nganjuk (Berbek, Kertosono dan Nganjuk ) tunduk dibawah kekuasaan dan pengawasan Nederlandsch Gouverment. Alur sejarah Kabupaten Nganjuk adalah berangkat dari keberadaan kabupaten Berbek dibawah kepemimpinan Raden Toemenggoeng Sosrokoesoemo 1. Di mana tahun 1880 adalah tahun suatu kejadian yang diperingati yaitu mulainya kedudukan ibukota Kabupaten Berbek pindah ke Kabupaten Nganjuk.

Dalam Statsblad van Nederlansch Indie No.107, dikeluarkan tanggal 4 Juni 1885, memuat SK Gubernur Jendral dari Nederlandsch Indie tanggal 30 Mei 1885 No 4/C tentang batas-batas Ibukota Toeloeng Ahoeng, Trenggalek, Ngandjoek dan Kertosono, antara lain disebutkan: III tot hoafdplaats Ngandjoek, afdeling Berbek, de navalgende Wijken en kampongs : de Chineeshe Wijk de kampong Mangoendikaran de kampong Pajaman de kampong Kaoeman. Dengan ditetapkannya Kota Nganjuk yang meliputi kampung dan desa tersebut di atas menjadi ibukota Kabupaten Nganjuk, maka secara resmi pusat pemerintahan Kabupaten Berbek berkedudukan di Nganjuk.***