Saturday, July 15, 2017

Masjid Agung Baitunnur Blora

Masjid Agung Baitunnur Blora, bagian bangunan masjid asli sejak masa kesultanan Mataram adalah bangunan yang berada di bagian belakang.

Masyarakat Kabupaten Blora tentu saja tak asing dengan Masjid Agung Baitunnur. Masjid yang merupakan Masjid Agung ini, berada di jantung kota Blora sekaligus merupakan masjid terbesar dan tertua di kabupaten Blora. Masjid Agung ini telah berdiri sejak masa Kesultanan mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung antara tahun 1613-1645 mengutus pangeran Pojok untuk ke Tuban, dari perjalanan pangeran pojok inilah awal berdirinya masjid Baitunnur.

Masjid Baitunnur ini dulunya dikenal dengan nama masjid Doro Ndekem atau dalam bahasa Indonesia artinya adalah Merpati duduk. Disebut demikian karena saat berdirinya masjid ini letak tanahnya lebih rendah dibandingkan dengan alun alun kota  sehingga tampak seperti burung merpati yang sedang duduk (Doro Ndekem).

Masjid Agung Baitunnur Blora
Jl. Alun-alun Barat No.1, Kauman, Kec. Blora Kota
Kabupaten Blora, Jawa Tengah 58213



Masjid Agung Baitunnur dibangun pada tahun 1722 dan pelaksanaan pemugaran pertama dilakukan oleh Bupati R.T. Djajeng Tirtonoto pada tahun 1774 dengan Surya Cengkala “Catur Pandhita Sabdaning Ratu”. Pada tahun 1968 dan 1975 dipugar oleh Bupati Supadi Yudhodarmo dengan tambahan bangunan menara. Pada mimbar terdapat angka tahun dengan huruf Arab dan Jawa, dan terbaca 1718.

Masjid Baitunnur berada di Kelurahan Kauman, Kecamatan Blora, lokasinya berdiri di jantung Kota Blora bersebelahan dengan Alun-alun Kota Blora. Kompleks masjid ini terdiri atas bangunan induk dan bangunan serambi. Bangunan induk beratap susun tiga. Pada bagian puncaknya dihias dengan mustoko dari logam. Komponen artefak kuno yang ada di masjid dan serambi masjid ini antara lain mimbar dari kayu berukir, maksurah, dan 2 buah bedug. Selain itu terdapat prasasti berhuruf Jawa di atas pintu masuk ke ruang utama dan angka tahun 1892 di daun pintu. Pada pintu selatan terdapat angka tahun 1822 dan pintu sebelah utara 1310 H.

Tidak jauh dari Masjid Agung Blora, terdapat makam Sunan Pojok yang dianggap sebagai pendiri masjid ini. Sedangkan makam Sunan Pojok yang ada di Makam Gedong Blora, Jl. Mr. Iskandar 1/1 Blora, atau sebelah selatan Alun-alun Blora, merupakan makam pindahan yang dilakukan oleh R.T. Djojodipo, putra Sunan Pojok Blora.

Interior Ruang Utama (bangunan asli) dari Masjid Agung Baitunnur Blora.

Saat ini masjid Agung Blora memiliki luas kurang lebih 2000 meter persegi, sudah masuk daftar cagar budaya dan merupakan aset sejarah nasional, bersama dengan lima masjid tertua di Jawa Tengah lainnnya. Karena-nya keaslian masjid ini sampai saat ini masih terjaga. Seperti ruang atas masjid yang dulu digunakan sebagai tempat penyimpanan pusaka serta bersemedi masih tetap terpelihara rapi.

Revitalisasi Masjid Agung Baitunnur Blora

Di tahun  2016 yang lalu pemerintah kabupaten Blora menyelenggarakan sayembara design renovasi Masjid Agung Baitunnur Blora sebagai bagian dari upaya revitalisasi Masjid bersejarah tersebut. Renovasi yang direncanakan tanpa menganggu gugat bangunan asli dari Masjid Agung Baitunnur yang akan tetap dijaga ke-asliannya dan dijadikan bangunan utama masjid.

Renovasi dilakukan terhadap bangunan tambahan yang ada di sekitar di bangunan asli termasuk membangun ulang bangunan masjid tambahan di sisi timur bangunan asli menjadi bangunan dua lantai berarsitektur modern yang kemudian di hubungkan langsung ke bangunan utama, membangun fasilitas parkir dan gedung lainnya di sisi barat bangunan utama. Seluruh proses tersebut direncanakan akan dimulai tahun 2018 nanti.***

Referensi

Tabloid infoku edisi 15-7 s/d 22 Agustus 2011