Sunday, September 24, 2017

Masjid Besar Baitul Makmur Krueng Sabee

Masjid Besar Baitul Makmur Krueng Sabee, Aceh Jaya

Masjid Baitul Makmur terletak di lintasan Meulaboh Banda Aceh, tepatnya di Keude Krueng Sabee, Aceh Jaya, kurang lebih 12 Km dari kota Calang. Masjid yang bergaya arsitektur melayu ini dibangun pascatsunami melanda Aceh pada 2004 silam. Bangunan masjid memiliki delapan kubah, masing-masing satu kubah utama, tiga kubah di pintu masuk, dan empat kubah di sudut masjid.

Selain untuk tempat ibadah, Masjid Baitul Makmur ini sering digunakan pengguna jalan sebagai tempat istirahat saat lelah berkendara. Selain tempatnya yang strategis, pengungjung juga bisa menggunakan fasilitas masjid untuk kebutuhannya, seperti kamar mandi da WC umum. Bagi pengendara mobil pun tidak khawatir untuk memarkirkan kendaraannya, karena di area masjid tersedia lahan parkir yang luas dan tidak mengganggu pengguna jalan lainnya.

Mesjid Besar Baitul Makmur Krueng Sabee
Keude Krueng Sabee, Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya
Aceh 23654, Indonesia


Di latar depan masjid adalah Tugu Semangat Perjuangan yang dibangun oleh masyarakat setempat. Tugu tersebut merupakan tonggak sejarah  serta saksi bisu pada masa konflik dulu, tugu Keude Krueng Sabee ini sudah pernah dibangun oleh pemuda setempat pada tahun 1980-an.

Pada saat terjadinya gempa bumi dan tsunami Aceh, tugu tersebut hancur total. Pasca terjadinya tsunami tugu tersebut dibangun kembali oleh para marinir yang membuat posko di keude krueng sabee dalam rangka rehab rekonstruksi Aceh pada masa itu.

Di seputaran masjid terdapat toko-toko yang menjual aneka macam kebutuhan. Jika lelah dalam perjalanan, pengunjung dengan mudah memilih warung kopi untuk tempat melepaskan lelah. Beraneka macam minuman dan makanan tersedia, pengunjung bisa menikmati Mie Aceh dan kopi khas Aceh yang memanjakan lidah.

Interior Masjid Besar Baitul Makmur Krueng Sabee, Aceh Jaya

Tugu Semangat Perjuangan mempunyai rasa kebanggaan tersendiri bagi masyarakat khususnya di Kemukiman Krueng Sabee, karena tugu tersebut  mempunyai ciri-ciri khas dan belum ada di tempat lain. Tugu ini diresmikan oleh Bupati Aceh Jaya Ir. Azhar Abdurrahman pada hari Sabtu (21 Mei 2016).

Tugu ini merupakan simbol kekompakkan dalam masyarakat khususnya warga Keude Krueng Sabee, sehingga dinamakan “Tugu Semangat Perjuangan”. Tugu tersebut merupakan tonggak sejarah  serta saksi bisu pada masa konflik dulu, tugu Keude Krueng Sabee.

Referensi


Saturday, September 23, 2017

Masjid Agung Jabal Rahmah Aceh Jaya

Masjid Agung Jabal Rahmah Aceh Jaya

Masjid Agung Jabal Rahmah adalah Masjid Agung di kabupaten Aceh Jaya, provinsi Nangroe Aceh Darusslam. Masjid Agung ini berada di desa Sentosa, kecamatan Calang, Kabupaten Aceh Jaya. Berdiri di atas tanah seluas 2.223 meter persegi dan luas bangunan 206 meter persegi serta mampu menampung hingga 1500 jemaah.

Bangunan masjid yang kini berdiri megah ini dibangun tahun 2007 menggantikan bangunan masjid sebelumnya yang hancur akibat terjangan tsunami 26 Desember 2004. Dana pembangunan masjid ini bersumber dari sumbangan pemirsa Pundi Amal SCTV, sehingga masjid ini juga seringkali disebut sebagai masjid SCTV.

Masjid Agung Jabal Rahmah
Jl. Carak, Desa Sentosa – Calang, Aceh Jaya
Nangroe Aceh Darussalam, Indonesia


Masjid Agung Jabal Rahmah pertama kali dibangun pada tahun 1987, sumberdana pembangunannya berasal dari Yayasan Amal Bakti muslim Pancasila (YAMP) dan dihimpun dari sumbangan masyarakat. Ide pendiriannya pun bergulir dalam masyarakat yang menginginkan berdirinya sebuah masjid yang permanen. 

Namun bangunan masjid tersebut luluh lantak bersama dengan infrastruktur lainnya yang ada di kota kecamatan Calang akibat bencana tsunami aceh 26 Desember 2004. Calang merupakan salah satu wilayah Aceh yang mengalami kerusakan paling parah akibat bencana tersebut.

Pada masa tanggap darurat tsunami didirikan bangunan darurat di atas pertapakan Masjid Agung Jabal Rahmah tersebut yang beratapkan tenda. Setelah itu, pembangunannya dilakukan oleh bantuan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur yang didukung oleh masyarakat setempat. Kontruksi bangunan sekarang merupakan hasil kayu olahan yang hanyut terbawa gelombang tsunami.

Interior Masjid Agung Jabal Rahmah Aceh Jaya

Pada tahun 2007, dilakukan pembongkaran bangunan darurat Masjid Agung Jabal Rahmah Calang dan dibangun kembali secara permanen dengan dana berasal dari sumbangan pundi amal SCTV. Setelah melalui serangkaian perombakan, kini Masjid Jabal Rahmah yang digagas oleh tokoh masyarakat Aceh Jaya ini telah menyandang status Masjid Agung.

Status Majid Agung tidak terlepas dari pemekaran Aceh Jaya dari Kabupaten Aceh Barat pada tahun 2002. Namun, saat ini Calang sudah dijadikan sebagai ibu kota Kabupaten Aceh Jaya. Masjid Agung Jabal Rahmah kini menjadi landmark kabupaten Aceh Jaya.

Pada dasarnya Masjid Jabal Rahmah merupakan Masjid kemukiman Calang yang membawahi beberapa desa di antaranya Desa Sentosa, Bahagia, Gampong Blang, Dayah Baro dan Keutapang. Karena letaknya sangat strategis, berada di tengah-tengah Kota Calang, maka dijadikanlah Masjid Jabal Rahmah tersebut sebagai Masjid Agung Kabupaten Aceh Jaya.

Sebagai masjid agung kabupaten, masjid ini menjadi pusat aktivitas ke-Islaman di kabupaten Aceh Jaya seperti pusat pelakanaan sholat Idul Fitri dan Idul Adha dan pusat peringatan hari hari besar Islam tingkat kabupaten serta menjadi titik keberangkatan dan kedatangan Jemaah Haji kabupaten Aceh Jaya.

Referensi


Sunday, September 10, 2017

Masjid Layur Kampung Melayu Semarang

Masjid Layur Kampung Melayu Semarang

Masjid Layur adalah salah satu masjid kuno di kota Semarang, Jawa tengah. Masjid tua ini kadang kala disebut pula Masjid Menara Kampung Melayu. Dinamakan Kampung Melayu karena sudah merupakan tempat hunian pada tahun 1743 yang sebagian besar orang yang mendiami kawasan tersebut adalah orang melayu. Masjid Layur ini disebut sebut sebagai Masjid tertua di Semarang.

Pada masa tersebut di kampung ini terdapat tempat untuk mendarat kapal dan perahu yang membawa barang dagangan. Lokasinya yang sangat strategis mengundang orang untuk berdiam disitu pula. Dicatat bahwa orang-orang dari Arab kemudian menempati kampung tersebut. Pada masa itulah kiranya masjid yang telah ada dikembangkan lagi dan memperoleh pengaruh yang dapat dilihat sekarang.

Mesjid Layur
Jl. Layur, Dadapsari, Semarang‎
Kota Semarang, Jawa Tengah 50173



Berpengaruhnya orang Arab di situ diperkuat oleh catatan Liem (1930) yang menyebutkan bahwa usaha pendirian klenteng oleh masyarakat Cina yang tidak begitu banyak jumlahnya di kampung tersebut ditentang habis-habisan oleh penduduk keturunan Arab pada tahun 1900. Penambahan menara pada bagian depan masjid menyebabkan masjid juga terkenal dengan nama masjid menara.

Sampai sekarang masjid ini masih terus dirawat oleh yayasan masjid setempat sebagai upaya pelestarian sejarah dan sebagai masjid tua kebanggaan Kota Semarang. Secara menyeluruh Masjid Layur masih asli seperti pertama kali dibuat, hanya ada sedikit perbaikan seperti penggantian genteng dan penambahan ruang untuk pengelola pada sisi kanan kompleks masjid.

Lokasinya cukup mudah dijangkau, dari arah pasar Johar ikuti jalur putar yang menuju arah kantor pos besar jalan pemuda atau arah stasiun Tawang, dari rel kereta api di depan Jalan Layur, menara Masjid Layur sudah kelihatan kokoh menjulang tinggi.

Arsitektur Masjid Layur

Dari arah jalan raya yang tampak dari masjid ini hanya gapura berkubah dan menaranya saja, sedangkan masjidnya berada di dalam pagar tembok nya yang cukup tinggi seperti benteng. Dari gapuranya baru terlihat bangunan masjidnya berdiri kokoh dengan gaya bangunan masjid tradisional Indonesia sekali.

Bangunan masjidnya beratap tumpang bersusun tiga ditambah lagi dengan kanopi dibagian bawah atap terbawagnya. Lantai bangunan ditinggikan dari permukaan tanah disekitarnya dan hanya dapat dicapai dengan melewati tiga anak tangga tangga yang terdapat pada sisi muka.

Pondasi bangunan dari batu yang memikul struktur kerangka kayu. Masjid ini dilihat dari gaya arsitekturnya merupakan percampuran dari tiga budaya yaitu Jawa, Melayu dan Arab dengan sentuhan keindahan oleh para pembuatnya.

Walaupun sudah dimakan usia namun masjid ini masih kokoh dan masih digunakan oleh masyarakat sekitar untuk beribadah. Sampai sekarang masjid ini masih terus dirawat oleh yayasan masjid setempat sebagai upaya pelestarian sejarah dan sebagai masjid tua kebanggaan Kota Semarang. Secara menyeluruh masjid Layur masih asli seperti pertama kali dibuat, hanya ada sedikit perbaikan seperti penggantian genteng dan penambahan ruang untuk pengelola pada sisi kanan kompleks masjid.

Referensi

Saturday, September 9, 2017

Masjid Raya Tanjung Pasir

Masjid Raya Tanjung Pasir atau Masjid Raya Alhaji Muhammad Syah.

Masjid Raya Tanjung Pasir atau Masjid Raya Alhaji Muhammad Syah adalah masjid raya yang berada di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhanbaut Utara, Provinsi Sumatera Utara. Masjid ini merupakan peninggalan Kerajaan Kualuh, Karenanya Masjid Raya ini juga seringkali disebut dengan Masjid Sultan Kualuh. Selain itu masjid ini juga dikenal dengan nama Mesjid Raya Alhaji Muhammad Syah, lokasinya berada jalan besar desa Tanjung Pasir.

Masjid bersejarah bercorak Melayu yang berukuran sekitar 20 x 20 meter ini terletak tak jauh dari sungai Kualuh, sungai yang membentang dari Kecamatan Kualuh Hulu, Kualuh Selatan, Kualuh Hilir, dan Kualuh Leidong. Selain arsitekturnya yang menarik, Masjid ini juga memiliki arti penting dari sisi sejarahnya di masa lampau.

Mesjid Raya Alhaji Muhammad Syah
Tj. Pasir, Kecamatan Kualuh Selatan
Kabupaten Labuhanbatu Utara
Sumatera Utara 21457



Didirikan oleh Sultan Kualuh III, Al-Haji Muhammad Syah pada tahun 1937.
Kesultanan Kualuh merupakan pecahan Kesultanan Asahan yang berdiri pada abad XVI, sedangkan Kesultanan Kualuh pada abad XVIII. Pada tahun 1920 Sultan Al-Haji Muhammad Syah memindahkan pemerintahan Kerajaannya ke Tanjung Pasir dan mendirikan Istana.

Anak gadis Sultan menikah dengan salah seorang pangeran dari kerajaan Langkat. Sebagaimana ayahandanya, Putri Sultan yang menjadi permaisuri tersebut berkeinginan membangun Masjid di Labura. Sultan berkunjung ke kerajaan Langkat, beliau sangat kagum melihat keindahan bangunan Masjid Azizi yang dibangun oleh Sultan Langkat pada waktu itu. Beliau menginginkan pembangunan masjid di seperti Masjid Azizi dan meminta agar membuatkan gambar dengan ukuran mini.

Sejarah Masjid Raya Al-Haji Muhammad Syah diawali berdirinya Kerajaan Kesultanan Kualuh di Labura pada abad XIX, tepatnya tahun 1829 dengan raja pertama Sultan Haji Ishaq Syah. Setelah beliau mangkat maka digantikan oleh putra tertuanya bernama Sultan Al-Haji Abdullah Syah dan memindahkan pemerintahan kerajaannya ke Kampung Masjid Kecamatan Kualuh Hilir yang sebelumnya kampung tersebut bernama Djatuhan Dadih.

Masjid Raya Tanjung Pasir

Perubahan nama kampung tersebut terjadi setelah kedatangan seorang ulama dari Rokan, Riau bernama Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan beserta para pengikutnya sekitar 150 orang. Kedatangan ulama terkenal tersebut disambut oleh Sultan dan memberikan bantuan berupa beras dan sejumlah uang untuk keperluan para santri.

Atas anjuran Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan, setelah Sultan berguru beberapa tahun maka Sultan berniat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah beserta putranya yang bernama Tengku Biong (yang kelak akan berganti nama) pada tahun 1870 selama kurang lebih 3 tahun untuk memperdalam ilmu agama.

Di sana, Sultan mendirikan tempat tinggal di sekitar Masjidil Haram tepatnya berada di Pasar Seng. Tempat tinggal tersebut diperuntukkan bagi keluarga dan masyarakat Kesultanan Kualuh yang pergi melaksanakan haji pada saat itu sehingga tidak perlu lagi mencari tempat tinggal di Mekah. Selanjutnya setelah Sultan merasa cukup, atas permintaan rakyatnya maka Sultan kembali ke tanah air (Kualuh) dan mewakafkan tempat tinggal tersebut.

Sebelum Sultan berangkat ke tanah suci, bersama Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan membangun sebuah masjid, yang kelak tempat tersebut bernama Kampung Masjid kerena terdengar kabar ada ulama besar mengajarkan ilmu agama di kampung tersebut.

Referensi


Sunday, September 3, 2017

Masjid Agung Sultan Jeumpa Kabupaten Bireuen

Masjid Agung Sultan Jeumpa Kabupaten Bireun (foto @agus_mauriza
  
Masjid agung Sultan Jempa adalah Masjid Agung di kabupaten Bireun Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Bangunan masjid agung kebanggaan warga Bireun ini telah di renovasi total oleh pemerintah kabupaten Bireun di tahun 2015-2016 yang lalu dan kini tampak semakin indah, serta menjadi daya tarik untuk wisata religi di Kabupaten tersebut, Sentuhan Ornamen kaligrafi Arab pada dinding Masjid dengan ubahan desain serta perpaduan cat menambah keindahannya.

Setelah di renovasi, Masjid Agung Sultan Jeumpa Kabupaten Bireun ini, kini tampil begitu megah di tengah kota Bireun, sentuhan senibina bangunan masjid modern dengan tidak meninggalkan ciri khas bangunan masjid Aceh terpadu dengan apik di masjid ini.

Mesjid Agung Bireuen
Meunasah capa, Jl. Gayo KM. 1 (Jalan Raya Bireun – Takengon)
Jeumpa, Bireun, Aceh 24261 Indonesia


Sepintas lalu anda akan dapat menemukan kesan kemiripan dengan arsitektur masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Begitupun dengan interiornya. Perancang masjid ini sangat apik merancang masjid ini dalam balutan modern termasuk material keramik importnya dengan sentuhan Aceh yang sangat kental hingga ke interiornya.

Pemilihan Masjid Agung ini sebagai tempat pelaksanaan akad nikah karena Objek Masjid Agung Sultan Jeumpa setelah direhab tampak sangat indah, dan menjadi kebanggaan bagi para calon pengantin untuk melangsungkan ikatan akad nikahnya di Masjid tersebut.

Sebagai masjid agung kabupaten, Masjid Agung Sultan Jeumpa ini menjadi tempat pelaksanaan hajatan ke-Islaman tingkat kabupaten Bireun termasuk menjadi pusat pelaksanaan sholat Idul Fitri dan Idul Adha yang dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Bireun, serta para pejabat kabupaten lainnya bersama ribuan masyarakat muslim Bireun.

Interior Masjid Agung Sultan Jeumpa Kabupaten Bireun (@ceritabireun)

Renovasi masjid Agung Bireun ini di mulai tahun 2015 lalu dimulai dengan anggaran dana Rp 500 juta dari APBK 2015 dan kas masjid Rp 600 juta. Sehingga anggaran yang tersedia untuk renovasi tahap awal masjid itu mencapai Rp 1,1 miliar. Renovasi awal tersebut meliputi renovasi lantai seluas 40x20 meter persegi, loteng, halaman yang dilengkapi dengan taman, pagar, tempat wudhu, dan kamar mandi. Keseluruhan anggaran untuk pembangunan masjid ini hingga tahun 2016 sekitar 9 milyar rupiah.

dan Masih di tahun 2015 Mesjid Agung Bireuen Berubah Nama Menjadi Mesjid Agung Sulthan Jeumpa. Penamaan tersebut merupakan hasil penjaringan nama dari publik, tahap seminarisasi, tahap konsultasi ke ulama, tahap finalisasi dan tahap penetapan.

Pada masa penjaringan nama masjid, panitia menerima masukan 19 nama, nama nama tersebut disarankan oleh tokoh masyarakat, akademisi, guru, imam-imam masjid dan masyarakat biasa, semua usulan nama mesjid yang diterima panitia harus disertai dengan penjelasan.

Berdasarkan hasil seminar, dari 19 nama tersebut mengkerucutlah tiga nama, yaitu Mesjid Agung Sulthan Jeumpa, Mesjid Agung Normal Islam dan Mesjid Agung Tgk Chiek Awe Geutah. Dan ahirnya dipilih nama Masjid Agung Sultan Jeumpa Sebagai nama Masjid Agung Kabupaten Bireun ini.

Referensi




Saturday, September 2, 2017

Masjid Agung Al-Amjad

Masjid Agung Al-Amjad Kabupaten Tangerang (foto: indra.wardana)

Masjid Agung Al-Amjad adalah Masjid Agung Kabupaten Tangerang, lokasinya berada di dalam Komplek Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang di Tigaraksa. Diresmikan tahun 2005 oleh Wakil Presiden RI, Bapak Drs. HM. Jusuf Kalla. Berdiri di atas tanah seluas lahan seluas 24.003 meter persegi dengan luas bangunan 5.604 meter persegi dan berdaya tampung jemaah 6.000 orang.

Masjid yang terletak di belakang Gedung Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang ini, dibangun dengan konsep meminimalisasikan penggunaan cahaya lampu pada siang hari dan mengurangi penggunaan pengatur suhu udara didalamnya. Cahaya matahari yang masuk diberi filter yang cukup menarik juga, yaitu dengan pemberian material precast krawang, sehingga tidak terlalu tersorot secara langsung ke arah dalam.

Masjid Agung Al-Amjad
Kadu Agung, Tigaraksa, Tangerang, Banten 15720



Masjid Agung Al-Amjad ini dilengkapi dengan menara yang dibangun terpisah dari bangunan utama masjid, Menara ini cukup tinggi menjulang setinggi 66,66 meter, memiliki makna jumlah ayat yang ada pada Al Qur’an, menara ini berdenag segi delapan, dan makin keatas makin mengecil.

Masjid Agung Al-Amjad ini juga dilengkapi dengan ruang belajar TPA atau madrasah, aula serba guna, perpustakaan, taman, dan areal parkir yang luas. Selama Ramadan, Masjid Agung Al-Amjad ini ramai dikunjungi jamaah baik dari Tangerang maupun dari luar daerah seperti Bogor dan Serang untuk beritikaf dan beribadah.

Interior Masjid Agung Al-Amjad

Interior Masjid ini terasa lebih lapang dengan ketiadaan tiang tiang penyanggah atap di tengah ruang utama. tiang tiang penyanggahnya berada di sisi luar ruang utama. tampak benar bahwa tiang tiang tersebut hanya menjagi penopang atap dantidak menjadi sandaran bagi struktur beton lantai duanya. Ruang utama masjid ini terhubung langsung dengan pelataran masjid yang cukup luas dan juga menjadi area sholat di luar ruangan.

Secara keseluruhan bentuk tampilan, keseimbangan bangunan dan skala ruang yang tercipta, direncanakan dengan cukup baik, dan dilengkapi dengan halaman yang cukup luasi. Semua sudut bangunan dari mulai gerbang pintu masuk sampai dengan masuk kedalam bangunan, dibuat dengan sangat detail dan teliti.

Referensi